0815 1321 1333 info@sekolahmuamalah.com

Mendapatkan “Durian Runtuh” atau Hadiah (bagian 1)

Sering sekali kita melihat di iklan bertaburan hadiah. Mulai cari kode unik berhadiah mobil, motor, hp, uang tunai, hingga emas berlimpah. Cukup membeli salah satu barang yang di promosikan di TV. Mulai dari sabun berhadiah liontin emas, minyak goreng, minuman isotonic, kopi dan berbagai macam hadiah yang ditawarkan. Tidak tanggung-tanggung hadiah diberikan dalam jumlah besar.

Hmmm, memang diantara mawashid syariah Islam, dengan memberikan hadiah salah satunya adalah menciptakan rasa ksaling kasih sayang dan mencintai antara sesama hamba Allah, pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akhir zaman.

Apa perbedaannya antara sedekah dengan hadiah?
Sedekah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang lain yang membutuhkan (fakir miskin) tanpa mengharap imbalan.

Sedangkan hadiah?
Hadiah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang lain tanpa imbalan dengan tujuan mempererat hubungan atau sebagai penghormatan, dan orang yang diberi hadiah bukanlah orang yang dalam keadaan kesulitan ekonomi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, gemar memberikan hadiah kepada para sahabatnya. Sebagaimana dalam sabdanya :
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwaatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai”. (HR. Muslim fil Adabul Mufrad. Hadist Hasan).

Dan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, menganjurkan untuk menerima hadiah, sekecil apapun hadiah tersebut, walaupun tidak terlalu berharga sekalipun, jangan menolak hadiah. Agar pemberi hadiah tidak merasa kecewa ataupun kecil hati.

Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Hadirilah undangan dan jangan menolak hadiah!”. (HR. Ahmad).

Aku akan menghadiri undangan , sekalipun untuk makan kikil kambing kaki depan dan kaki belakang dan aku menerima hadiah, sekalipun kikil kambing kaki depan dan atau kaki belakang. (HR. Bukhari).

Bayangkan Rasulullah saja menerima hadiah dan memberikan hadiah kepada para sahabatnya.

Dan di era saat ini, seperti saya katakan sebelumnya. Beli sabun saja bisa dapat liontin emas. Padahal sabun itu harganya hanya Rp. 3.500 saja, beli minyak goreng bisa dapat Mobil, waaaaah kereeen bangeeet. Cuma cari kode unik dikemasannya, lalu kirim no unik tersebut melalui SMS. Bisa dapat mobil. Begitu juga minum isotonic saja, jika beruntung menemukan kode unik di tutup botolnya, bisa dapat mobil, motor ataupun gadget.

Tapiiiiiii, sebagai seorang muslim. Apakah hadiah tersebut diperbolehkan dalam Islam.
Hukumnya apa yah, jika kita membeli produk tersebut. Lalu dapat hadiahnya.

Gharar gak sie, itu hadiah?
Apa masuk kedalam Maysir?
Atau bisa jadi itu Haram?

Yuuk kita telusuri mengenai fenomena ini.
Jangan kemana-mana yah, stay tune di artikel setelah ini.

Ditulis oleh perwakilan kaum ibu, sekaligus dosen & pegiat ekonomi syariah. Miss Atikah, M.Esy
Referensi : Harta Haram Muamalat Kontemporer (karya Dr. Erwandi Tarmizi, MA)

3 Comments

  1. senang dapat info muamallah

    Reply
  2. apakah ada pelaksanaan sekolah muamalah di kota Malang ?

    Reply
    • Salam Pak Juniardi

      Saat ini yang terdekat, bpk dapat mengikuti Sekolah Muamalah di Surabaya

      Silahkan kontak nomor berikut 0822 3260 5000 utk info lebih lengkap.

      Syukran.
      -Admin SMI-

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.