0815 1321 1333 info@sekolahmuamalah.com

FINTECH: (POTENSI) RENTENIR DALAM GENGGAMAN

Istilah fintech atau financial technology sebagai layanan keuangan berbasis internet, menjadi sangat populer dan menjadi fenomena di tengah masyarakat, seiring masifnya penggunaan internet dan ponsel pintar. Keunggulan Fintech sebagai inovasi baru juga dipicu oleh beragam kelebihan yang dimilikinya seperti prosedur yang mudah, cepat dan tidak terbatas jarak, menjadi pembeda fintech dengan layanan keuangan konvensional.

Masyarakat kini semakin dibuat terlena dengan kemudahan demi kemudahan yang diperoleh karena kemajuan teknologi. Pada sektor layanan keuangan saja, evolusi teknologi keuangan sangatlah pesat. Dimual dari munculnya Anjungan Tunai Mandiri (ATM) pada 1980an, RTGS (Real Time Gross Settlement), uang elektronik (Elektronik Money) hingga Fintech yang sekarang ini sedang populer.

Kemajuan teknologi ini adalah hal yang patut disyukuri, mengingat setiap urusan manusia saat ini menjadi lebih mudah dengan adanya teknologi. Allah Subhanahu wa ta’ala pun menginginkan kemudahan bagi hambanya, bahkan Al-qur’an juga tidak diturunkan agar manusia menjadi susah dengan peraturan yang ada,  namun sebagai pengingat kepada manusia agar selalu mengingat Allah.

Allah berfirman dalam Al-qur’an:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (Al-Baqarah : 185)

Namun, sebagai muslim tentunya kita harus berhati-hati dengan kemungkinan adanya riba atau hal-hal yang tidak sejalan dengan prinsip islam pada sebuah fenomena perubahan yang baru.

Apa itu Fintech?

Fintech adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu inovasi di bidang jasa finansial. Kata Fintech sendiri berasal dari kata financial dan technology yang mengacu pada inovasi finansial dengan sentuhan teknologi modern. Fintech Indonesia memiliki banyak jenis, antara lain pembayaran (payment), peminjaman (lending), perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), riset keuangan dan lain-lain.

Dari sekian banyak bentuk Fintech yang ada, penulis akan memfokuskan bahasan mengenai fintech dalam jenis peminjaman uang (Lending) yang marak bermunculan di aplikasi smartphone saat ini. Bagaimana hukum islam memandang fenomena ini? Adakah penyimpangan yang terjadi dalam akad peminjaman berbasis teknologi ini? Adalah rumusan masalah yang akan kami coba jawab pada tulisan ini, dengan objek penelitian sebuah perusahaan fintech peminjaman uang berinisial RP yang layanan aplikasinya tersedia di android.

Uraian akad

Perusahan jasa RP adalah salah satu platform kredit pinjaman tunai yang mengklaim dirinya adalah yang pertama dalam hal kredit tanpa agunan online. Peminjam hanya diwajibkan menyertakan data lengkap sesuai Kartu Tanda Pengenal (KTP) untuk dapat meminjam uang dari jumlah Rp 600.000 hingga Rp 1.200.000 dengan jangka waktu pengembalian tujuh hingga 14 hari.

Fintech dalam jenis peminjaman (lending) ini dapat dikatagorikan sebagai akad Al-Qhordhu atau Qard. Qardh dalam terminologi syariah dapat diartikan sebagai akad pinjaman dari pemberi pinjaman (Muqridh) kepada pihak peminjam (Muqtaridh) yang wajib dikembalikan dengan jumlah yang sama sesuai pinjaman. Perbuatan tolong menolong ini dibolehkan dalam islam, berdasarkan dalil berikut:

Allah berfriman dalam Al-qur’an:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ

Artinya:

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”. (Q.S. Al-Hadid : 11)

Dari penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa perbuatan meminjamkan uang dibolehkan dalam islam, bahkan dijanjikan balasan yang lebih baik. Memudahkan kesulitan sesama muslim juga merupakan pengamalan dari hadits nabi yang menyebutkan ganjaran kemudahan di dunia dan akhirat bagi orang yang memudahkan kesulitas sesama muslim.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

 

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mu’min di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat…”. (HR. Muslim)

Namun, Masalah mulai timbul saat penulis mencermati syarat dan ketentuan peminjaman yang tertera di perusahaan RP

(Sumber: Syarat & ketentuan aplikasi RP)

Perusahaan RP membebankan bunga atas pinjaman yang diberikan kepada nasabahnya. Tentu saja dalam islam bunga atau manfaat apapun dari kegiatan pinjam meminjam diharamkan karena tergolong sebagai Riba. Dan perilaku riba diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya

Dalam kaidah Fiqih disebutkan:

كُلُّ قَـرضٍ جَرَّ مَنفَـعَـةً فَهُوَ رِباً

Artinya:

“Setiap piutang yang memberikan manfaat, maka (manfaat) itu adalah riba”.

Persyaratan bunga seperti ini telah menjadi kewajaran di tengah masyarakat saat ini, dengan asumsi kegiatan utang piutang dapat menjadi peluang bisnis yang dapat dikomersilkan untuk diambil manfaatnya. Padahal dalam islam, tujuan hutang piutang adalah untuk tolong menolong dan saling mengasihi sesama muslim.

Tidak sampai di situ, masalah lain timbul dikarenakan adanya denda keterlambatan (late charge) yang disyaratkan oleh perusahaan RP. Peminjam akan dikenakan denda jika terlambat dalam melakukan pembayaran sebesar 0.012 (satu poin dua persen) dari besar pokok pinjaman untuk setiap harinya pada hari keterlambatan satu sampai tujuh hari dan denda sebesar 0.02 (dua persen) dari pokok pinjaman untuk setiap harinya pada hari keterlambatan delapan dan seterusnya.

(Sumber: Syarat & ketentuan aplikasi RP)

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah : 278)

Dalam kajian fiqih muamalah, denda atas keterlambatan membayar hutang itu sama persis dengan riba Jahiliyah (riba nasi’ah), yaitu tambahan dari hutang yang muncul karena faktor penundaan. Islam melarang prilaku seperti ini dan mensyariatkan untuk memberi perpanjangan waktu jika penghutang memang belum mampu membayar sesuai waktu yang telah ditentukan. Bahkan, Allah menganjurkan untuk mensedekahkan uang yang dipinjam tersebut kepada peminjam jika memang dia merasa tidak sanggup untuk membayar.

Allah berfirman:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya:

 

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (QS Al-Baqarah 2:280)

 

Jadi, persyaratan bunga dan denda keterlambatan di atas menjadikan perbuatan pinjam meminjam uang pada perusahaan RP tersebut menjadi bathil, karena termasuk dalam transaksi yang mengandung riba. Maka hendaknya tiap muslim harus teliti dan cermat sebelum melakukan kegiatan pinjam meminjam agar terhindar dari praktek riba yang diharamkan Allah

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Penyusun: Alkhaledi Kurnialam

Referensi “Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA, Cetakan XIV, 2016

 

 

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.