Titik Kritis Keharaman MLM (Multi Level Marketing) dalam Fiqh Muamalah Maaliyah

Titik Kritis Keharaman MLM (Multi Level Marketing) dalam Fiqh Muamalah Maaliyah

Karena dipercaya dapat memberikan keuntungan yang cukup besar kepada perusahaan, dewasa ini, berbagai jenis barang marak dipasarkan degan menggunakan marketing pola MLM, perhiasan, program komputer, minuman suplemen, kosmetik, kaset-kaset islami, herbal dan lain-lain.

Semenjak pemasaran barang pola MLM masuk ke negeri-negeri Islam para ulama telah berbeda pendapat tentang hukumnya.

Pendapat pertama : MLM hukumnya mubah (boleh)

Ini merupakan pendapat Lembaga fatwa Al Azhar, Mesir. Karena dianggap sama dengan samsarah (perantara antara penjual dan pembeli/calo).

Berikut teks soal-jawab tentang perusahaan “BIZNAS” salah satu perusahaan program komputer di timur tengah yang berdiri pada tahun 2001, berpusat di Kesultanan Oman, yang menggunakan sistem MLM dalam memasarkan produknya dapat dibaca dalam buku Harta Haram Muamalat Kontemporer cetakan ke- 15 Bab Multi Level Marketing (MLM) halaman 352.

Point nya adalah dewan (Lembaga fatwa Al Azhar, Mesir) memutuskan bahwa usaha yang dilakukan termasuk samsarah.

Fatwa ini ditanggapi oleh banyak para peneliti ekonomi Islam.

Menurut Dr. Husein Syahrani dalam desertasinya yang diajukan ke Fakultas Syariah, Universitas Islam Al Imam Saud, Riyadh, Arab Saudi yang berjudul “At Taswiq At Tijary wa ahkamuhu fil Fiqh Al Islami” bahwa fatwa ini tidak berarti membolehkan sistem MLM secara mutlak, disebabkan beberapa hal :

1. Fatwa tersebut berdasarkan deskripsi yang disampaikan penanya tanpa mengkaji ulang secara langsung sistem yang digunakan perusahaan yang bersangkutan, sebagaimana dijelaskan pada pembukaan fatwa.

Padahal kalau penanya menjelaskan hal-hal yang dapat mempengaruhi hukum MLM kemungkinan fatwanya berbunyi lain, seperti bahwa pembelian produk merupakan syarat untuk dapat memasarkan barang dan meraih bonus, lalu tujuan utama orang membeli produk untuk ikut MLM adalah meraih bonus yang dijanjikan, perbandingan bonus yang dijanjikan sangat jauh dibandingkan dengan harga produk dan usahanya memasarkan barang. Selengkapnya ada pada buku Harta Haram Muamalat Kontemporer.

2. Fatwa ini tidak membolehkan secara mutlak akan tetapi berkaitan, yaitu tidak terdapat penipuan, kecurangan dan kezaliman dalam memasarkan produk.

Persyaratan ini tidak terpenuhi dalam praktik MLM, karena kenyataannya, pada saat memasarkan produk dan sekaligus merekrut downline selalu dipenuhi kecurangan, penipuan dan kezaliman. Dimana upline menjanjikan bonus yang sangat besar kepada calon pembeli, padahal yang mendapatkan bonus itu hanya 6% saja dari seluruh anggota, ini namanya spekulasi tingkat tinggi (judi), dengan janji itu pembeli bersedia membeli produk yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan harga sebenarnya, bahkan produk BIZNAS dapat diperoleh secara gratis, ini adalah kezaliman dan kecurangan dalam penjualan produk.

3. Fatwa yang menganggap MLM sama dengan samsarah (calo) tidaklah tepat, karena terdapat perbedaan yang mendasar antara MLM dan samsarah:

Pendapat kedua: MLM hukumnya tidak boleh (haram)

Ini merupakan pendapat mayoritas para ulama kontemporer, juga fatwa dewan ulama kerajaan Arab Saudi, keputusan Lembaga fikih Islam di Sudan dan fatwa pusat kajian dan penelitian Imam Al-Albani, Yordania.

Menurut Dr. Sami As Suwaylim (Direktur Pengembangan Keuangan Islam di Islamic Development Bank, Jeddah dan bekas anggota dewan syariah bank Al Rajhi, Riyadh) dalam sebuah penelitiannya mengatakan bahwa MLM adalah perpanjangan dari Pyramid scheme/Letter Chain (pengiriman uang secara berantai) yang berasar dari Amerika.

Tatkala pemerintah setempat melarang praktik ini karena dianggap sebagai penipuan maka sistem ini dikembangkan dengan memasukan unsur barang/produk agar mendapat legalitas dari pemerintah.

Sangat ironis sekali, jika saja negara yang menganut sistem liberal dalam ekonominya –menghalalkan riba dan judi- telah melarang praktik ini kenapa juga ulama Islam masih ragu-ragu menjatuhkan hukum praktik ini.

Ini (Ide asas kerja MLM dalam buku HHMK) adalah sebuah penipuan, yaitu: memberikan keuntungan untuk sedikit orang dan merugikan orang banyak. Dalam hitungan matematika persentase anggota yang mengalami kerugian mencapai 94% sedangkan anggota level atas yang meraih keuntungan hanyalah 6% saja. Ini sangat jelas merupakan penipuan.

Oleh karena itu, pemerintah Amerika telah melarang praktik Pyramid Scheme. Namun agar sistem ini dapat diakui oleh pemerintah maka pihak pengelola memasukkan produk sebagai kedok. Dan namanya diubah menjadi Multi Level Marketing, Direct Selling dan lain-lain.

Hukum pyramid scheme jelas haram, karena mengandung unsur riba ba’i, yaitu: menukar uang sejenis dengan cara tidak tunai dan tidak sama nominalnya, juga mengandung unsur gharar, yaitu: saat seseorang bergabung dengan sebuah jaringan Pyramid Scheme dia tidak tahu apakah uang yang telah dibayarkannya akan kembali ditambah bonus, karena statusnya berada pada tingkat bawah.

Bila hukum ini telah disepakati, maka selanjutnya yang perlu dikaji apakah penyertaan sebuah barang/produk ke dalam sistem ini dapat mengubah hukum MLM menjadi halal atau tidak?

Seseorang yang bergabung dengan MLM ada 3 macam:

1. Seseorang yang murni bertujuan untuk menjadi perantara antara produsen dan konsumen (agen) dengan sistem MLM.

Perantara ini tidak dapat menjualkan produk sebagaimana layaknya perantara dalam sistem marketing biasa, yaitu barang diambil terlebih dahulu berdasarkan kepercayaan kemudian ia mendapat upah sekian persen dari hasil penjualan. Akan tetapi ia diharuskan terlebih dahulu membeli salah satu produk tersebut.

Proses ini jelas dilarang dalam Islam karena terdapat dua akad dalam satu akad.

Dan tujuan dibalik persyaratan perantara harus membeli salah satu produk terlebih dahulu perlu dicermati. Karena persyaratan ini merupakan indikasi kuat bahwa produk hanya sebatas kedok untuk melegalkan Pyramid Scheme. Karena bila ia hanya sebatas perantara tanpa membeli produk maka mata rantai Pyramid Scheme akan terputus. Dengan demikian pengelola jaringan akan mengalami kerugian, karena bonus yang dberikan jauh lebih besar daripada hasil penjualan barang.

2. Seseorang yang bertujuan membeli produk saja tanpa ambil peduli dengan bonus yang dijanjikan perusahaan MLM karena ia merasa cocok dengan produknya.

Maka konsumen ini sesungguhnya telah tertipu. Karena harga jual yang telah ditetapkan oleh perusahaan lebih dari 60% dianggarkan untuk pemberian bonus, hal ini disepakati oleh seluruh perusahaan MLM. Maka pembeli yang hanya membeli barang saja dia telah tertipu karena harus membayar 60% dari harga barang untuk bonus orang-orang dalam jaringan, padahal ia membei produk langsung dari tangan pertama. Selengkapnya ada di buku HHMK.

3. Seseorang yang ikut bergabung dalam MLM dengan tujuan bonus. Karena bonus yang dijanjikan untuk tahun pertama saja sangat besar dan jauh dibanding harga barang yang dipasarkan kepada kedua orang yang sekaligus merupakan downline-nya.

Dan tujuan ini merupakan tujuan utama mayoritas orang-orang yang bergabung dalam MLM, yaitu memperoleh bonus puluhan juta rupiah. Dan mereka sama sekali tidak menghiraukan produk yang dijual dan dibelinya. Dalam kasus ini jelas bahwa barang hanyalah sebagai kedok untuk melegalkan Pyramid Scheme.

 

Dari penjelasan di atas sangat jelas bahwa sistem MLM tidak berbeda hukumnya dengan Pyramid Scheme, sekalipun disertakan barang/produk karena status barang hanyalah sebagai kedok.

Hal ini dicermati oleh Dewan Fatwa kerajaan Arab Saudi, dengan fatwa No. 22935, tanggal: 14-3-1425H, yang (versi lengkapnya ada pada buku HHMK) point intinya adalah :

Berdasarkan penjelasan hakikat sistem pemasaran ini maka hukumnya adalah haram sesuai dengan dalil-dalil berikut:

  1. Sistem MLM mengandung unsur riba fadhl dan riba nasi’ah.

Setiap anggota menyerahkan uang dalam jumlah kecil untuk mendapatkan uang dalam jumlah yang lebih besar. Ini berarti uang ditukar dengan uang dengan nominal yang tidak sama dan tidak tunai. Inilah riba yang diharamkan berdasarkan teks Alquran dan Hadist, beserta Ijma’.

Sedangkan status barang/produk yang dijual perusahaan kepada konsumen hanyalah sebatas kedok, karena barang bukanlah tujuan orang yang ikut dalam jaringan tersebut. Dengan demikian keberadaan barang tidak mempengaruhi hukum (menjadi halal).

  1. Sitem MLM mengandung unsur gharar (spekulasi) yang diharamkan syariat.

Karena setiap orang yang ikut dalam jaringan ini, ia tidak tahu apakah akan berhasil merekrut anggota (downline) dalam jumlah yang diinginkan atau tidak. Sedangkan jaringan ini sekalipun terus beroperasi, suatu saat pasti akan terhenti, maka pada saat ia bergabung ke dalam jaringan ia tidak tahu, apakah dia berada pada tingkat atas dengan demikian dia akan beruntung. Ataukah dia akan berada pada tingkat bawah dengan demikian dia akan rugi.

Dan kenyataannya, sebagian besar anggota jaringan menderita kerugian dan hanya sebagian kecil saja yang meraih keuntungan.

Dengan demikian, persentase terbesar adalah rugi, inilah hakikat gharar. Yaitu, keberadaannya antara untung dan rugi, dengan rasio rugi lebih besar.

Dan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang gharar, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahih.

  1. Sistem MLM mengandung unsur memakan harta manusia dengan cara yang batil.

Karena yang mendapat keuntungan dari sistem ini hanyalah perusahaan MLM dan sejumlah kecil anggota dalam rangka mengelabui orang-orang untuk ikut bergabung.

Dalam hal ini teks Alquran sangat jelas mengharamkan praktik ini. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.. (An-Nisaa: 29)

  1. Sistem MLM mengandung unsur penipuan, menyembunyikan cacat dan pembohongan publik.

Dari sisi penyertaan barang/produk dalam jaringan, seolah-olah ini adalah penjualan produk padahal sesungguhnya yang terjadi bukanlah demikian. Dan dari sisi menjanjikan bonus yang sangat besar, namun jarang diperoleh setiap anggota. Ini adalah penipuan yang diharamkan syariat. Nabi bersabda,

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
“Tidak termasuk golonganku orang yang menipu”. (HR Muslim)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

 

البَيِّعَانِ بِالخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مَحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

 

“Penjual dan pembeli dibenarkan melakukan khiyar selagi mereka berada dalam satu majelis dan belum berpisah. Jika keduanya jujur dan saling terbuka maka niscaya akad mereka diberkahi. Dan jika keduanya berdusta dan saling menutupi cacat (barang) maka niscaya dicabut keberkahan dari akad yang mereka lakukan.” [HR al-Bukhari dan Muslim]

 

KESIMPULAN

Dari dua pendapat di atas, jelaslah bahwa pendapat yang terkuat adalah MLM hukumnya haram. Adapun fatwa yang membolehkan, sebetulnya bukanlah membolehkan secara mutlak, melainkan memboleh kan berkait, yakni bila persyaratan-persyaratan yang ditentukan syariat terpenuhi; padahal, kenyataannya, semua persyaratan tersebut dilanggar oleh sistem MLM.

 

Oleh karena itu, Dr. Husain Syahrani dalam disertasi Doktoralnya yang berjudul “At Taswiq al-Tijari wa Ahkamuhu fi Al-Fiqh Al-Islami” (Marketing Dalam Tinjauan Fikih) yang dibimbing oleh Dr. Abdurrahman al-Athram (Sekjen International Bureau For Economics & Finance, Anggota Dewan pakar AAOIFI, dan mantan Sekjen Dewan Syariah Bank Al Rajhi, Riyad) sampai pada kesimpulan bahwa tidak seorang pun ulama dari dunia Islam yang menghalalkan sistem MLM. Ia berkata,”Setelah mencari, meneliti, mendiskusikan, serta mengkaji maka saya tidak menemukan seorang ulama pun yang berpendapat bahwa sistem MLM hukumnya mubah (boleh) secara mutlak.”

 

Kemudian perlu juga diingat bahwa MLM diharamkan bukan karena produknya, melainkan karena sistem pemasarannya. Maka apa pun jenis produk yang dipasarkan dengan sistem MLM, sekalipun produknya adalah barang-barang yang Islami, seperti CD literatur Islam yang dijual oleh perusahaan Hibatul Jazirah, Riyadh, atau kaset-kaset dan CD yang berisi ceramah serta kajian keislaman yang dijual oleh perusahaan Madaar An Nuur, Mesir dengan sistem MLM hukumnya juga haram.

 

Demikian ringkasan tentang Multi Level Marketing (MLM) dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer penulis Dr. Erwandi Tarmizi, MA cetakan ke-15, semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya bagi penyusun artikel ini.

Ingin membaca versi lengkapnya dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer cetakan ke-15? Silahkan kontak admin untuk pemesanan via WhatsApp ke 0852-1385-1333.

 

 

Berilmu Sebelum Berdagang.

Berilmu Sebelum Berharta.

Berilmu Sebelum Bertahta.

 

 

Terima kasih.

Admin Sekolah Muamalah Indonesia.

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.