Solusi agar terhindar dari dosa Riba pada Klaim Asuransi Pasien bagi Dokter dan Rumah Sakit

Solusi agar terhindar dari dosa Riba pada Klaim Asuransi Pasien bagi Dokter dan Rumah Sakit

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Alhamdulillah, sebuah komitmen dan perjuangan dari seorang dokter untuk memberantas dan memerangi Riba.

Beberapa hari yang lalu pada sebuah status di jejaring media sosial Facebook menjadi viral karena surat pernyataan seorang dokter yang memberikan kebijakan dengan kampanye untuk Sehat Tanpa Riba.

 

 

 

Dalam konteks sebagai seorang dokter, rasanya sangat susah Anda tidak menanda-tangani berkas klaim asuransi dari pasien. Hal ini menyebabkan munculnya kegalauan dan rasa was-was dari kalangan insan medika, khususnya Dokter dan pihak Rumah Sakit.

Mengapa mereka galau?

Karena sangat jelas sabda Nabi :

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini ada penegasan haramnya menjadi pencatat transaksi riba dan menjadi saksi transaksi tersebut. Juga ada faedah haramnya tolong-menolong dalam kebatilan.” (Syarh Shahih Muslim, 11: 23)

Jika Dokter atau pihak Rumah Sakit, menandatangani berkas klaim asuransi yang mengandung Riba, maka dalam hal ini mereka akan termasuk sebagai Saksi dan atau Pencatat Riba, yang dosanya sama dengan pelaku utama Riba.. Naudzubillah…

Lalu, bagaimana cara Dokter dan pihak Rumah Sakit menyikapi fenomena Riba ini?

Jenis Asuransi

Asuransi saat ini terbagi menjadi 2,
Pertama, Asuransi yang tidak mengandung Ribawi, yaitu asuransi yang di berikan oleh perusahaan atau instansi kepada para karyawan nya yang tidak memotong gaji karyawannya, akadnya adalah tabarru’. Akad tabarru’ adalah akad atau transaksi yang mengandung perjanjian dengan tujuan tolong menolong tanpa adanya syarat imbalan apapun dari pihak lain. Perusahaan atau instansi memberikan cuma cuma bantuan dana kepada karyawan atau anggota nya yang sakit atau tertimpa musibah.

Kedua, Asuransi Ribawi, asuransi ini pesertanya membayar premi dengan nilai polis tertentu, dimana peserta asuransi ini membayar premi tertentu tiap bulannya yang nanti nya akan mendapatan klaim (penggantian) apabila nasabah sakit, dengan jumlah nilai klaim yang lebih besar daripada nilai Preminya. Misal dengan Premi 100rb per bulan nasabah akan mendapatkan manfaat klaim sampai dengan 1.000.000 per hari di rumah sakit. Hal ini lah yang menyebabkan asuransi jenis ini mengandung RIBA. Hal ini disebabkan akad nya adalah Jual beli atau tukar menukar uang dengan jumlah yang tidak seukuran, dimana nasabah membayar Premi hanya 100 rb tiap bulan nya namun di tukar dengan klaim asuransi sebesar 1 juta saat nasabah sakit. Tukar menukar uang (rupiah) dengan uang (rupiah) syaratnya harus Cash dan Seukuran. Jika tidak maka termasuk RIBA.

 

Hal ini sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)

Dalam hadist diatas jelas disebutkan emas dengan emas jika di tukar harus cash(tunai) dan seukuran. Sedang Uang (rupiah) di Qiyas kan dengan Emas oleh Jumhur Ulama. Sehingga tukar menukar uang(rupiah) dengan uang(rupiah) harus dilakukan dengan Cash (tunai) dan seukuran (sama jumlahnya).

Jenis Peserta Asuransi

1. Peserta/Pemilik Asuransi non Ribawi dengan akad Ta’awun dari Perusahaan/isntansi. Peserta asuransi ini diperbolehkan mengklaim asuransinya karena akadnya adalah tabarru’ (tolong menolong) di berikan cuma cuma oleh perusahaan atau instansinya.

2. Peserta/Pemilik Asuransi Ribawi yang di berikan Oleh Perusahan/instansi kepada karyawan/anggota nya. Dalam hal ini seseorang memiliki Asuransi Ribawi yang di daftarkan atau di hadiahkan kepada nya, premi yang di bayarkan oleh perusahaan bisa dari potongan gajinya atau perusahan membayarkan cuma cuma premi karyawan atau anggotanya kepada pihak asuransi.
Jika anda termasuk golongan peserta asuransi ini, maka anda hanya boleh menggunakan atau memakai Uang hasil Klaim Asuransi sesuai dengan Jumlah akumulasi premi yang pernah di bayarkan saja. Dia tidak terkena dosa Riba karena yang menyepakati akad Ribanya adalah Perusahaannya.

Misalnya A bekerja di perusahaan yang di ikutkan asuransi Ribawi, selama ini perusahaan telah membayarkan premi untuk nya selama 1 tahun, dengan premi sebesar 200 ribu per bulan. Maka jika Qodarullah si A sakit dan Nilai Klaim Asuransinya yang keluar adalah sebesar total 5 juta. Maka yang halal di gunakan A untuk berobat adalah hanya sebesar 200 rb X 12 bulan saja yaitu sebesar 2,4 Juta saja, dan sisanya yang 2,6 juta adalah uang RIBA yang haram anda gunakan, maka si A akan terkena dosa Riba jika dia tetap menggunakan Uang Riba tersebut.

Catatan Khusus :
Untuk Peserta atau Pemilik jenis Asuransi ini JIKA dia adalah orang yang tidak Mampu dan atau Dhuafa (Fakir Miskin) Maka Seluruh Klaim Asuransi nya Halal dia gunakan atau pakai untuk biaya pengobatannya. Hal ini karena Orang yang tidak mampu atau Fakir Miskin Halal menggunakan dana Riba.

3. Peserta/Pemilik Asuransi Mandiri RIBAWI. Peserta asuransi ini adalah seseorang yang dengan sukarela menjadi nasabah asuransi dengan membayar Premi secara mandiri.
Peserta jenis ini berarti telah menyepakati Akad Ribawi dan termasuk Pelaku Riba, diamana dia menyepakati jual beli atau tukar menukar uang (rupiah) dengan tidak tunai dan tidak seukuran.  Naudzubillah.

Lalu Bagaimana sikap dan kebijakan anda sebagai dokter atau insan Medika dalam menghadapi perkara muamalah Klaim Asuransi ini???

Berikut adalah Langkah atau SOP sebagai Dokter atau pihak Rumah Sakit dalam menanggapi permintaan tanda tangan atau persetujuan klaim asuransi dari pasien :

1. Pastikan pasien yang meminta tanda tangan atau pengesahan klaim asuransi ke anda adalah asuransi perusahaan yang tanpa membayar atau memotong gaji atau pendapatannya alias asuransi berbasis reimburstment atau asuransi tabarrru’. Jenis pengguna Asuransi ini diperbolehkan klaimnya.

2. Jika pasien menggunakan Asuransi Ribawi yang di berikan atau di buatkan oleh perusahaan nya, maka jelaskan kepada dia bahwa pasien hanya boleh menggunakan atau mengambil klaim Asuransi hanya sebesar dana yang telah dia bayarkan atau dibayarkan oleh perusahaan nya saja. Dan kelebihan dana klaim nya adalah Riba. Jika pasien bisa memastikan bahwa uang yang di bayarkan nya atau perusahaannya lebih besar dari nilai klaim asuransinya maka silahkan tandatangani dan beri kan legalisir untuk meng klaim asuransinya.
Namun jika jumlah klaim lebih besar dari jumlah uang yang selama ini di setor atau di bayarkan preminya, maka Buat lah Perjanjian, bahwa. JIKA  Pasien TErmasuk orang yang mampu dan bukan Fakir misikin, maka dia Harus mengeluarkan kelebihan dana Riba dari klaim asuransinya itu kepada fakir miskin atau untuk fasilitas umum. Jika dia mau dan berjanji memenuhi syarat tersebut maka silahkan tanda tangani dan berikan legalisirnya.

3. Jika ternyata pasien adalah peserta Asuransi Mandiri, maka berikanlah nasihat tentang bahaya dan besarnya Dosa Riba yang akan di terima oleh pelaku dan pengguna Riba.
Dosa Riba akan membinasakan,  Karena Allah sudah menyampaikan Ancaman bagi orang yang tetap ngeyel melakukan Riba :

يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

[QS.2:276] Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah(1). Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa(2).

Catatan Kaki:

1. Yang dimaksud dengan memusnahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Dan yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat gandakan berkahnya.

2. Maksudnya ialah orang-orang yang menghalalkan riba dan tetap melakukannya.

 

Jangan anda tanda tangani dan jangan berikan legalisirnya.
Dengan membuat Akad yang jelas seperti gambar diatas dimana dokter tidak akan melayani pasien yang menggunakan asuransi ribawi maka pasien juga lebih bisa mengetahui dari awal sehingga tidak terjadi miss komunikasi.

 

 

 

Alhamdulillah langkah langkah diatas telah di konsultasikan kepada Dr. Erwandi Tarmizi, MA hafidzohulloh.

Mungkin setelah membaca ini anda ada yang berpendapat “Ribet sekali solusinya”…

Alhamdulillah orang yang cerdas pasti lebih memilih ribet di Dunia daripada Ribet di Akhirat nanti.

Profesi Dokter dan insan Medika adalah profesi yang mulia. Lengkapi kemuliaan Anda dengan bermuamalah tanpa Riba.

 

 

Barakallahu fiikum.

Dian Ranggajaya M.E.Sy
Founder Sekolah Muamalah Indonesia

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.