Ciri Pengusaha Hijrah : Omzetnya Turun, tapi Naik Keberkahannya

 

Beberapa hari ini saya mendengar, membaca dan melihat langsung bagaimana para pengusaha yang sedang berhijrah mengalami keadaan yang menurun, baik dari segi bisnis maupun omzet usahanya, ditambah cobaan yang sepertinya silih berganti menyapa kehidupan mereka belakangan ini. Rata-rata mereka sudah belajar di Sekolah Muamalah Indonesia.

Setelah mereka belajar teorinya, para pejuang ekonomi yang sedang hijrah tersebut mencoba mempraktekkan apa yang telah dipelajari di sekolah muamalah indonesia.

Mulai dari meninggalkan Bank konvensional, tidak lagi menggunakan asuransi, tidak lagi bermain di bursa saham, tidak lagi main forex, tidak lagi main reksadana, tidak lagi menerima parsel dari Bank, tidak lagi memberikan sogokan berbalut ucapan terimakasih dan masih banyak lagi hal-hal yang selama ini mereka lakukan dalam bisnisnya.

Walhasil, beberapa dari mereka mengalami penurunan Omzet yang sangat drastis.. bahkan ada yang gulung tikar.. bukan karena bangkrut, tapi karena takut kepada Allah, satu satunya dzat yang harus ditakuti di dunia ini…

Berikut ini adalah sebuah renungan yang mungkin banyak dirasakan para pejuang ekonomi yang sedang berhijrah…

Hari ini..

Mungkin saat kita tiba di rumah, saat membuka pintu gerbang rumah, anda melihat pintu besi yang sudah berkarat, lalu terpikir kapan ya bisa mengganti atau minimal mengecat ulang pintu karatan ini.

Saat masuk ke dalam rumah, anda jumpai anak-anak anda sedang tidur dengan keringat di badannya. Mereka kepanasan karena tidur di kamar kecil dan pengap ditambah kipas angin yang biasa dipakai di kamar anak rusak.

Ketika anda masuk kamar utama, terlihat istri yang sedang memakai daster kesayangan nya. Karena daster tersebut bermerek “Renggo” garing terus di nggo (kering langsung dipakai lagi). Terbesit keinginan, nanti saat punya uang saya harus belikan daster yang baru teruntuk istri tercinta.. bukan kenapa-kenapa.. sekarang daster renggo ini sudah banyak “Ventilasi” nya. Anda jumpai pula tempat tidur anda yang sekarang sudah bermotif Batik “Ler-Om” (Percampuran Iler (ludah) dan Ompol (ngompol) terasa indah di mata.

Saat anda menuju meja makan dan akan menikmati makan dengan lauk “Ati macan” (Jengkol) kesukaan. Anda sudah membayangkan betapa nikmatnya makan “Ati macan” dicolek sambal terasi dimakan bersama nasi panas. Namun,  impian makan enak anda segera buyar saat anda dapati nasi di boboko (bakul nasi) dingin karena Rice Coocker sudah hampir 2 tahun mati pemanasnya. Jadi istri hanya bisa menanak nasi dan harus langsung diangkat agar tidak basi.

Saat sedang menikmati makan, berkah turun dari langit begitu derasnya, pertanda anda harus mempercepat makan anda karena sebentar lagi air di halaman belakang rumah akan segera meluap jika tidak di tampon (diangkut ke luar airnya).

Setelah selesai mengangkut bulak-balik tampon air hujan, anda mencoba duduk di teras sambil merenung. Nikmat sekali hidup ini Yaa Allah.. sambil mengingat beberapa tahun lalu saat semuanya terasa indah, rumah baru, mobil baru, Pagar rumah mengkilat, AC rumah membuat dingin dan pulas tidur satu keluarga. Makan pun terbiasa jajan sate juga gulai ditambah nasi hangat yang mengepul, jalan jalan tiap minggu bersama keluarga, semua terasa Indah saat itu…

Tapi..

Semua yang terlihat indah dan nikmat di masa lalu itu, ternyata hanya indah jika dilihat dari kacamata dunia…

Lamunan duniawi masa lampau tiba-tiba buyar saat kita kembali mengingat, sudah berapa lama ini aku dan istriku tidak cek-cok (pertengkaran) yang membuat hati kami masing2 terluka..

Sudah berapa lama keluarga ini menjadi surga dunia, ketika sebelum subuh anda dan keluarga sudah bangun  dan sholat tahajjud bersama yang dilanjutkan sholat subuh berjama’ah bersama di masjid. Tidak kalah nikmat kala sore hari terdengar anak-anak ramai mengaji. Yaa Rabb… surga ini begitu nikmat…

Sudah berapa lama penghasilan dari bisnis yang dijalani hanya mampu menghasilkan pendapatan riil 5 juta sebulan. Namun anehnya cukup untuk memenuhi pengeluaran keluarga 15 juta sebulan!. Yaa Rabbi… 10 jutanya dari mana???

Sudah berapa lama keluarga anda jarang membeli sembako. Karena seringkali mendapat beras 1 karung, segepok sayuran hingga Ikan dan daging yang sudah matang siap santap dari teman yang hanya kebetulan berpapasan. Yaa Rabbi.. baru aku sadar, orang bisa makan enak walau tak punya uang… asalkan Dirimu berkehendak yaa Rabb…

Baru kita sadar, ternyata semua itu adalah keberkahan yang selama ini tak bisa kita miliki di saat harta kita melimpah. Sekarang, saat kita memilih Jalan Hijrah ini, mungkin secara kasat mata dan kacamata dunia kita sengsara, padahal justru kita sedang bermesraan dengan kebahagiaan yang haqq.

Dulu saat aku kaya, semua bisa aku beli… kecuali keberkahan sebuah kebahagian yang haqq.

Jadi teringat di saat hati ini galau karena omset yang menurun dan harta yang terus terkuras untuk makan, Dr. Erwandi Tarmizi guruku berkata “Orang yang hijrah biasanya omsetnya turun… tapi berkahnya naik”

Seperti hujan di siang hari yang terik, hatiku menjadi dingin dan segar…

Nikmatnya bermesraan dengan keberkahaan…

Yaa Rabbi… Keberkahan Ini.. Janganlah cepat berlalu… Keberkahan ini… Ingin kukenang selalu.. Hatiku damai… Jiwaku tentram bersama-Mu…

Renungan ini dipersembahkan untuk saudara-saudaraku yang sedang berhijrah. Nikmati dan rasakan kemesraan bersama keberkahan…

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Artinya:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Q.S. Al Baqarah : 214)

Barakallahu fiikum

 

14 Muharam 1439 H

@emasrangga

(Founder Sekolah Muamalah Indonesia)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.