Riba Pada E-Toll Card

Dari Hasan al-Bashri, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَأْكُلُونَ الرِّبَا فَمَنْ لَمْ يَأْكُلْهُ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Suatu saat nanti manusia akan mengalami suatu masa, yang ketika itu semua orang memakan riba. Yang tidak makan secara langsung, akan terkena debunya.”

Apa yang digambarkan oleh Nabi Muhammad di atas bukan lagi sebuah ucapan semata saat ini. Maraknya praktek riba di berbagai aspek mengepung umat hingga pada titik kritis dimana setiap individu tidak dapat terlepas dari cengkraman riba.

Salah satu fenomena riba yang sedang menjadi topik perbincangan saat ini adalah pemberlakuan kartu uang elektronik untuk transaksi tol (E-Toll Card) dengan discount (potongan harga) bagi pemakainya. Potongan harga ini diberlakukan pada 28 Agustus hingga 10 September dengan waktu pemberlakuan yang berbeda di setiap gardu. Dengan E-Toll, pengguna yang melakukan transaksi pembayaran dengan kartu ini akan diberi diskon 10 persen. Pemberlakuan potongan harga ini bertujuan untuk mendorong masyarakat menggunakan transaksi non tunai karena pada 31 Oktober nanti, semua transaksi tol harus menggunakan transaksi non tunai. Langkah yang diambil ini juga merupakan bentuk dukungan perusahaan penyedia tol atas Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang dicanangkan pemerintah. Potongan harga ini bukanlah kali pertama dilakukan, pada arus mudik idul fitri kemarin juga perusahaan penyedia memberikan diskon 20 persen bagi pengguna kartu E-Toll

E-Tol Dalam Fiqih

Pada dasarnya, dalam kajian fiqih muamalah hukum kartu E-Toll adalah Halal. Hal ini berlandaskan kaidah bahwa setiap transaksi dalam muamalah pada dasarnya diperbolehkan, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Jika dilihat dari prespektif maslahat, E-Toll sangat mempermudah transaksi pembayaran. Penggunaan E-Toll juga mempercepat waktu transaksi karena tidak ada lagi penghitungan dan pengembalian uang sehingga dapat memperpendek antrean serta memperkecil kemungkinan terjadinya kemacetan di gerbang-gerbang tol. Namun, pemberlakuan discount (Potongan harga) transaksi setelah kita melakukan pengisian saldo E-Toll itulah yang kemudian menjadikan transaksi E-Toll tergolong sebagai Riba yang dilarang oleh islam

E-Toll dapat diqiyaskan dengan kasus titip uang pada toko sembako yang dijelaskan oleh Ibnu Abidin (Ulama mazhab Hanafi, wafat 1836 M), dimana orang yang menitip akan membayar barang yang dibelinya dengan cara mendebet langsung dari uang titipan yang diberikan kepada pemilik toko.

Ibnu Abidin berkata,

وَلَوْ أَعْطَاهُ الدَّرَاهِمَ، وَجَعَلَ یَأْخُذُ مِنْهُ كُلَّ یَوْمٍ خَمْسَةَ أَمْنَانٍ وَلَمْ یَقُلْ فِي الِابْتِدَاءِ

… اشْتَرَیْتُ مِنْكَ

قُلْت: … وَهَذَا ظَاهِرٌ فِیمَا كَانَ ثَمَنُهُ مَعْلُومًا وَقْتَ الْأَخْذِ مِثْلَ الْخُبْزِ وَاللَّحْمِ أَمَّا إذَا كَانَ

ثَمَنُهُ مَجْهُولًا فَإِنَّهُ وَقْتَ الْأَخْذِ لَا یَنْعَقِدُ بَیْعًا بِالتَّعَاطِي لِجَهَالَةِ الثَّمَنِ، فَإِذَا تَصَرَّفَ فِیهِ

الْآخِذُ وَقَدْ دَفَعَهُ الْبَیَّاعُ بِرِضَاهُ بِالدَّفْعِ وَبِالتَّصَرُّفِ فِیهِ عَلَى وَجْهِ التَّعْوِیضِ عَنْهُ لَمْ

یَنْعَقِدْ بَیْعًا، وَإِنْ كَانَ عَلَى نِیَّةِ الْبَیْعِ لِمَا عَلِمْتَ مِنْ أَنَّ الْبَیْعَ لَا یَنْعَقِدُ بِالنِّیَّةِ، فَیَكُونُ

شَبِیهَ الْقَرْضِ الْمَضْمُونِ بِمِثْلِهِ أَوْ بِقِیمَتِهِ فَإِذَا تَوَافَقَا عَلَى شَيْءٍ بَدَلَ الْمِثْلِ أَوْ الْقِیمَةِ

بَرِئَتْ ذِمَّةُ الْآخِذ

 Artinya:

“Bila seseorang menyerahkan sejumlah uang kepada penjual, setiap harinya dia mengambil barang sebanyak 5 item dan pada saat menyerahkan uang dia tidak mengatakan, “saya beli darimu, 5 item setiap harinya”

Aku berkata, ”Hukumnya boleh jika harga 5 item tersebut telah jelas sebelumnya seperti roti dan daging. Adapun jika harganya tidak diketahui pada saat mengambil barang maka akad jual-belinya tidak sah karena harga pada saat transaksi tidak jelas. Maka apabila barang telah digunakan oleh pihak penitip uang dan sungguh penjual telah menyerahkannya dengan ridha dan dengan tujuan mendapat uang maka sesungguhnya akad jual-beli belum terjadi. Walaupun niat kedua belah pihak untuk melakukan akad jual-beli, hal ini dikarenakan akad jual beli tidak sah dengan niat saja. Maka sesungguhnya yang terjadi hampir serupa dengan akad Qardh (dimana penitip uang meminjamkan uangnya dan penjual meminjamkan barangnya) yang dia menjamin uang atau barang dengan semisalnya atau senilainya”.

Berdasarkan penjelasan di atas, akad E-Toll adalah Qardh.  Maka dalam kasus E-Toll, pengguna yang melakukan transaksi jasa tol dengan E-Toll sehingga mendapat potongan harga, terkatagorikan mendapat manfaat yang diberikan muqtaridh (penerima pinjaman) kepada muqridh (pemberi pinjaman) dan hukum islam mensyariatkan, bahwa setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat bagi pemberi pinjaman hukumnya Wallahu A’lam adalah Riba

Dalam kaidah Fiqih disebutkan:

كُلُّ قَـرضٍ جَرَّ مَنفَـعَـةً فَهُوَ رِباً

“Setiap piutang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba”.

Permasalahan ini sebenarnya serupa dengan artikel Sekolah Muamalah Indonesia terdahulu yang membahas tentang penggunaan Go-Pay . Kamipun telah mengkonfirmasi hukum fiqih ini kepada Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA tentang permasalahan diskon E-Toll ini yang hujjahnya sangat direkomendasikan

Saran Bagi Pengelola

Dari penjelasan di atas, akhirnya kita sadar bahwa maslahat besar yang ada pada E-Toll ternoda oleh potensi riba di dalamnya. Sehingga penulis menyarankan untuk tidak memberikan potongan harga bagi pelanggan E-Toll, demi menghindari dosa riba yang termasuk dari salah satu dosa besar

Adapun saran penulis tentang cara promosi penggunan uang elektronik yang dapat ditempuh pengelola jalan tol adalah dengan mengedepankan aspek manfaat kartu E-toll dalam strategi sosialisasinya. Misalnya aspek keuntungan waktu, dimana transaksi di gardu tol akan lebih cepat dan efisien karena tidak  harus berinteraksi dengan petugas tol. Kemudian manfaat di atas juga diberi data fakta manfaat penghematan waktu, seperti memberikan kampanye penghematan kalkulasi waktu transaksi di gardu tol. Jika transaksi dengan uang tunai dibutuhkan waktu sekitar tujuh detik, maka dengan menggunakan E-Toll ini dapat kurang dari empat detik. Pemakaian E-Toll juga berarti penghematan bakar karena efisiensi waktu antre di pintu tol dan juga bernilai penghematan bahan kayu yang merupakan bahan dasar kertas print out transaksi. Nilai-nilai itulah yang penulis sarankan menjadi metode sosialisasi kepada pengguna jalan tol, apakah ingin menggunakan cara transaksi cash yang penuh kesulitan dengan dan tidak efisien, atau E-Toll yang penuh dengan kemudahan. Wallahu A’lam

Saran Bagi Umat Islam

Maka hendaknya kita lebih teliti dalam setiap transaksi yang kita lakukan, demi terhindar dari dosa riba yang akan diperangi oleh Allah dan rasul-Nya.

Allah Berfirman:

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Artinya:

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya” (QS. Al-Baqarah : 279)

Pemakan riba juga diancam dengan azab terburuk yaitu neraka.

Allah berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya:

“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Q.S. Al-Baqarah : 275)

Hendaknya juga tidak bosan bagi muslimin yang paham akan hukum syara, agar  menasehati pelaku riba yang dalam hal ini adalah pengelola jalan tol dalam rangka Tawasau bil Haq. Sehingga tidak mengikat pelanggan dengan perbuatan terlarang dalam koridor syariah yang dalam hal ini adalah discount pada pemakaian kartu E-Toll

Solusi bagi masyarakat yang sudah terlanjur mendapat discount dari penggunaan E-Toll Card tersebut adalah dengan menghitung berapa jumlah discount yang sudah diterima, lalu sedekahkan kepada fakir miskin uang tersebut dan diharapkan agar tidak kembali mengulangi

Fenomena ini seakan ingin mengingatkan kita akan pentingnya berilmu sebelum beribadah, berdagang ataupun kegiatan lainnya

‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.

Insya Allah, Sekolah Muamalah Indonesia akan terus berusaha melakukan pemberian saran atau koreksi atas fenomena kontemporer yang terjadi dalam rangka Tawasau bil Haq. Tentu saja kami menerima semua saran atau kritik dari ikhwan/akhwat atas syiar dakwah yang kami lakukan ini.

Berikut wawancara singkat dengan Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, terkait E-Toll. (Klik untuk mendengarkan)


Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Penyusun: Alkhaledi Kurnialam

Referensi “Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA, Cetakan XIV, 2016

5 Comments

  1. boleh kah saya menanggapi artikel ini dan atau sekedar bertanya?

    Reply
      • Sepengetahuan saya, yang memberikan diskon itu adalah pengelola jalan toll, bukan bank atau lembaga penerbit e-toll, bisa dilihat dari program diskonnya siapa yang memberikan. Nah jika demikian, antara pengelola jalan toll dengan pengguna jalan toll selaku pemegang e-toll apakah bisa dipersamakan dengan hubungan pinjam-meminjam atau utang piutang? demikian mohon pencerahannya.

        Reply
  2. Assalamualaikum,

    Saya ingin bertanya tentang e-money dan pembayaran e..e.. lainnya.

    Langsung saja, kita mengetahui e-money status hukumnya sama dengan alat pembayaran biasa hanya beda fisik/media maka e-money juga tergolong sebagai benda ribawi.

    Saya tidak setuju ketika topup e-money dikenakan fee/biaya tambahan karena dengan itu terjadi riba, namun jika berpikir di sisi penyedia layanan tersebut mereka juga memerlukan biaya/pendapatan untuk maintenance(alat, SDM, dll).

    Pertanyaannya adalah:
    1. Apakah fee tersebut dibolehkan jika dengan alasan sebagai biaya maintenance penyediaan jasa topup? apakah tepat jika dikiaskan seperti biaya transfer antar bank?
    2. Jika fee tersebut tidak diperbolehkan, bagaimana solusi bagi umat islam dari sistem ini dan solusi bagi pihak penyedia jasa tersebut?

    apalagi nantinya semua pembayaran toll akan elektronik dan umat islam tidak ada pilihan lain selain menggunakannya

    Reply
    • Wa’alaikumussalam
      1. Apakah fee yang bapak maksud adalah biaya administrasi di bank? Jika demikian maka hal itu tidak masalah pak. Seperti yang tetulis di artikel, E-Toll ini akadnya adalah qardh. Maka yang menjadi masalah adalah ketika ada manfaat yang diterima pengguna E-TOLL, melebihi saldo yang didepositkan.
      Seperti diketahui, definisi riba adalah bertambahnya manfaat dalam hal hutang-piutang yang melebihi jumlah pinjaman pokok. Jadi, saat kita mendepositkan uang ke pihak E-Toll (status kita adalah pemberi hutang) akan terkena riba jika mendapat tambahan manfaat melebihi uang pokok yang didepositkan (dalam hal ini potongan harga)

      2. Silahkan menyimak audio yang terlampir di atas pak. Ada penjelasan Ustadz Dr.Erwandi Tarmizi, MA yang berkaitan dengan pertanyaan bapak ini. Jika berkenan silahkan lampirkan nomer WA bapak, kami akan kirimkan penjelasan Ustadz Erwandi dalam bentuk video lengkap. Terimakasih
      Wallahu a’lam

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.