Peluang Bisnis Halal Ternak Hewan Online

Teknologi informasi saat ini, memungkinkan manusia untuk melakukan berbagai aktivitasnya dengan cara yang semudah mungkin. Mulai dari sekedar interaksi sosial hingga transaksi bisnis. Baru-baru ini yang sedang menjadi sorotan adalah inovasi ternak hewan melalui aplikasi ponsel pintar. Aplikasi ini merupakan jasa penitipan dan perawatan hewan ternak berupa sapi atau kambing. Melalui aplikasi ini investor yang ingin berternak namun tidak memiliki lahan, kandang, waktu, serta keterampilan merawat ternak dihubungkan dengan peternak yang akan merawat hewan ternaknya selama tiga bulan.

Sebagai seorang muslim yang terikat dengan hukum Syara’ tentulah melihat fenomena baru ini dengan merujuk kepada akad atau aturan syara’ yang mengatur semua gerak kegiatan ini.

Allahu a’lam, penulis mencoba menguraikan akad-akad yang terjadi pada kegiatan ini dari mulai pembelian bibit, titip ternak hingga tahap mendapatkan keuntungan dari ternak. Berikut pengamatan penulis mengenai fenomena ini:

Investor memilih bibit ternak melalui aplikasi jasa ternak tersebut dengan melihat detail binatang ternak beserta proyeksi keuntungannya.
Hal yang perlu dicermati terlebih dahulu adalah posisi penyedia aplikasi dalam akad jual beli hewan ternak. Apabila penyedia jasa bertindak sebagai pemilik hewan untuk diperjual belikan maka akad ini dapat dikatagorikan sebagai Ba’i Al ghaib ala As shifat (Jual beli barang yang tidak dihadirkan atau tidak disaksikan pada saat akad dalam majlis akad, namun hanya dijelaskan spesifikasinya melalui kata-kata) akad ini menurut mayoritas ulama adalah sah karena penjelasan sifat atau ciri fisiknya dihukumi sama dengan mengetahui sesuatu hal dengan cara melihat langung
Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya (Al Baqarah: 89)

Ayat diatas menghukumi Yahudi atas keinkaran mereka terhadap Nabi Muhammad. Padahal mereka hanya mengetahui Nabi Muhammad melalui Taurat bukan dari melihat langsung namun Allah menghukumi sama antara pengetahuan yang didapat melalui uraian dan penglihatan langsung bagi mereka. Maka penjelasan spesifikasi barang melalui kata-kata sama dengan melihat langsung sehingga tidak ada unsur Gharar dalam jual beli ini

Apabila penyedia aplikasi bertindak selaku wakil/agen dari pemilik hewan yang akan dijual maka hukumnya adalah sah berdasarkan dari hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah Radiyallahu anhuma ia berkata: “Aku hendak menuju Khaibar, lalu aku mendatangi Rasulullah salallahu alaihi wa sallam, aku mengucap salam kepadanya, lalu berkata, “Aku hendak pergi menuju Khaibar”. Maka Nabi Salalllahu alaihi wa sallam bersabda, “Bila engkau mendatangi wakilku di Khaibar ambilah darinya 15 wasq kurma! jika dia meminta bukti bahwa engkau adalah wakilku maka letakkanlah tanganmu diatas tulang bawah lehernya” (H.R. Abu Daud. Menurut Ibnu Hajar sanad ini Hasan) dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa wakil/agen sama dengan pemilik barang

Apabila penyedia aplikasi bukan sebagai pemilik barang dan juga bukan sebagai wakil dari pemilik, maka para ulama sepakat bahwa jual beli ini adalah tidak sah karena akad ini mengandung gharar disebabkan pada saat akad berlangsung, penjual belum dapat memastikan barang dapat ia kirimkan kepada pembeli atau tidak. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam Radhiyallahu ‘anhu ia berkata yang artinya:
“Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku seraya meminta kepadaku agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan cara terlebih dahulu aku membelinya untuknya dari pasar?”. Rasulullah menjawab: “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu”. (H.R. Abu Daud dan dishahihkan oleh al-Albani)

Hewan ternak yang sudah dibeli, kemudian diternakkan selama 3 bulan yang akan dirawat oleh peternak yang telah ditunjuk penyedia aplikasi.
Akad sewa jasa perawatan ternak dengan membayar tarif pakan dan perawatannya merupakan akad yang sah dan boleh dilakukan. Seperti diketahui praktek ijarah yang salah adalah bila ongkos dari sewa adalah dengan bagi hasil, seperti membayar peternak dengan anak hasil hewan ternak investor yang sering ditemukan di masyarakat. Jadi, dalam kasus penyedia jasa ternak aplikasi ini dapat dikatakan sebagai akad ijarah yang sah karena secara rukun terpenuhi yaitu investor selaku Mu’jir, peternak selaku Musta’jir dan biaya pakan dan perawatan sebagai Ujrah. Syarat ijarah juga dapat dikatakan terpenuhi pada kasus ini karena pelaku dalam akad ini jelas umur baligh, berakal dan melakukan perjanjian ijarah perawatan ini dengan sukarela.
Rasulullah SAW bersabda:
أعْطُوا الأجِيْرَ أجْرَهُ قَبْل أن يَجُف عَرَقَهُ
“Berilah upah kepada orang yang kamu pekerjakan sebelum kering keringat mereka” (HR. Ibnu Majah, Al-Thabrani dan Al-Tirmidzi)

Setelah tiga bulan (ternak dibolehkan memanen hasil ternak setelah bulan ketiga atau kurang dari itu) investor dapat menjual ternak hasil tiga bulan dan mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli dengan harga jual saat panen. Cara mendapatkan hasil ini dibenarkan oleh hukum syara’ karena hasil dari hewan ternak investor ini menjadi hak penuh investor, tidak dikurangi untuk peternak ataupun pihak jasa aplikasi sesuai dengan peranjian pada akad awal.
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Penyusun: Alkhaledi Kurnialam

Referensi “Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA, Cetakan XIV, 2016

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.