Menyingkap Bisnis ‘Hiburan’ di Ibu Kota

Kebijakan sensasional baru-baru ini dikeluarkan oleh Pemprov DKI Jakarta. Pada  27 Oktober, akhirnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak memperpanjang Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) sebuah tempat hiburan berinisial AXS yang menyediakan jasa pijat, karaoke, diskotek dan hotel. Kebijakan ini berarti penghentian kegiatan usaha yang biasa berlangsung di dalamnya.

Pemprov DKI berdalih, mendapati temuan dan laporan dari warga akan adanya praktik prostitusi terselubung yang dilakukan di AXS, yang sudah sejak lama dilakukan dan bahkan dibenarkan keberadaannya oleh gubernur sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama.

Tentunya putusan seperti ini adalah sebuah kebijakan yang sangat baik, demi mencegah masyarakat dari perbuatan yang melanggar norma kesusilaan dan norma hukum. Ditambah lagi fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim, yang mensyariatkan untuk melakukan Amar ma’ruf dan Nahi munkar, dimana seorang muslim yang melihat kemungkaran diajarkan untuk menasehati dan mengajak orang yang berbuat keingkaran agar segera kembali kepada jalan Allah.

Apabila sudah marak ketidak acuhan diantara muslimin untuk saling menasehati kepada kebaikan, maka akan terjadi azab Allah seperti yang digambarkan Nabi dengan dua kelompok orang yang sedang menaiki kapal, ada yang di atas dan di bawah. Jika penumpang bagian atas tidak mengingatkan bagian bawah, bahwa jangan sampai mengambil air dengan cara membocori kapal, tentu semuanya akan tenggelam. Itulah pentingnya Amar ma’ruf dan Nahi munkar.

Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

Artinya:

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu”. (HR. Bukhari).

 

Sesuai dengan tujuan Sekolah Muamalah Indonesia yang ingin mengedukasi umat perihal Fiqih Muamalah Maaliyah, maka tulisan ini akan mengurai bagaimana islam memandang beberapa kegiatan bisnis yang terjadi pada kasus AXS.

Bisnis Diskotek dan Karaoke

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dijelaskan bahwa diskotek adalah ruang atau gedung hiburan tempat mendengarkan musik (dari piringan hitam) atau berdansa mengikuti irama musik. Sedangkan karaoke adalah jenis hiburan dengan menyanyikan lagu-lagu populer dengan iringan musik yang telah direkam terlebih dahulu.  Jadi, dua kegiatan ini bersinggungan erat dengan musik, yaitu kedua-duanya menggunakan musik sebagai media  mendapatkan pundi-pundi uang.

Ibnu Rajab dalam Nuzhatul Asma’ berkata, “Tidak seorangpun ulama salaf yang membolehkan mendengar alunan alat musik, kecuali generasi setelahnya yaitu dari sebagian ulama zahiry. Akan tetapi pendapat ulama zahiry tersebut tidak dianggap”.

Imam Nawawi dalam bukunya Minhajut thalibin menegaskan keharaman memainkan alat musik serta mendengarkan alunan musik. Ia berkata, “Haram hukumnya memainkan alat musik… seperti: gendang, gitar, seruling… dan juga haram mendengarkannya.

Bahkan dalam kitab Minhajutthalibin dan Mughni Muhtaj, jilid VI disebutkan bahwa Nabi pernah bersabda yang artinya: “Akan datang suatu masa dimana sekelompok umatku menghalalkan perzinahan, menghalalkan memakai kain sutera (bagi laki-laki), menghalalkan (meminum) khamar dan menghalalkan alat musik”.

Setelah mengetahui alat musik haram dan mendengar musik juga haram, maka mendapatkan imbalan dari jasa yang haram, juga merupakan harta haram. Dalam kasus AXS, mereka menyediakan jasa pertunjukan musik Disk Jockey (DJ) di diskotek atau jenis musik lainnya, juga menyediakan jasa penyediaan ruangan karaoke dan lagu-lagu untuk bernyanyi di tempat karaoke, maka harta hasil dari bisnis ini terkatagorikan sebagai harta haram karena meraup harta menggunakan musik yang diharamkan dengan cara memainkan alat musik atau juga rekaman musik dan mendendangkan lirik lagu yang diiringi musik.

Keharaman jasa dari penyediaan diskotek dan karaoke ini, bahkan bertambah tingkat keharamannya dengan disertai wanita penyanyi atau DJ yang tampil di diskotek dengan mengenakan pakaian mengumbar aurat, berlenggak-lenggok mempertunjukkan lekuk tubuhnya yang sesekali mengeluarkan desah nafas mengundang syahwat, juga diiringi penari latar yang tidak kalah maksiatnya. Begitupun yang terjadi di karaoke yang biasanya disediakan fasilitas wanita pemandu lagu dengan pakaian yang mengundang syahwat. Tentu sudah jelas bisnis ini sangat jauh dari katagori halal. Semoga Allah mengembalikan mereka kepada fitrahnya

Belum lagi penjualan minuman keras yang sudah lumrah ada di diskotek. Padahal para ulama sepakat bahwa memproduksi khamar, memperjual belikan dan mengkonsumsinya hukumnya adalah haram.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. ( Q.S. Al Maidah: 90)

Keharaman menjual minuman keras juga dikuatkan dengan hadits Nabi:

لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ

Artinya:

“Allah melaknat khomr, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya dan orang yang meminta diantarkan”. (HR. Abu Daud. Disahihkan oleh Al Albani)

Prostitusi

Di hotel-hotel itu ada enggak prostitusi? Ada. Prostitusi artis di mana? Di hotel. Di AXS itu lantai 7-nya surga dunia loh. Di AXS itu bukan surga di telapak kaki ibu loh, tapi lantai 7” ujar Ahok, Selasa (16/2/2016).

Perkataan Ahok yang dilansir oleh Liputan6.com tersebut, merupakan indikasi kuat dari seorang kepala daerah yang membenarkan adanya praktik pelacuran di AXS, meskipun hingga saat artikel ini ditulis, belum ada keputusan hukum tetap dari lembaga peradilan yang membenarkan adanya pelacuran di AXS.

Prostitusi secara bahasa, dapat diartikan sebagai pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan; pelacuran. Dengan pengertian ini, maka sudah jelas bahwa prostitusi adalah praktik mencari harta dengan cara yang bathil sehingga diharamkan dalam islam.

Apa yang terjadi pada AXS ini dan tempat prostitusi yang ada saat ini, sebenarnya juga terjadi pada zaman dahulu sampai datanglah Islam untuk menghapus itu semua.

Dalam situs www.IslamiQA.info, Mufti Ebrahim Desai mengatakan, “Prosititusi adalah Haram, mempekerjakan wanita untuk melacurkan dirinya supaya orang yang mempekerjakan mendapatkan pendapatan darinya merupakan tindakan Haram, dan tentunya pendapatan dari prostitusi ini adalah Haram”.

Republika.co.id juga menuliskan fatwa Qardhawi tentang hukum melacur pada 18 Januari 2014, bahwa islam tidak memperkenankan seseorang dengan bebas untuk menyewakan kemaluannya.

Sebagian orang-orang Jahiliyah ada yang mematok uang setoran tiap harinya bagi para budak-budak perempuannya. Para majikan tersebut mematok uang setoran dengan tidak memperdulikan dari mana, dan dengan cara apa para budak perempuan itu mendapatkannya.

Seringkali menjurus kepada perbuatan zina, supaya dia dapat membayar apa yang telah ditetapkan atas dirinya itu. Bahkan, sebagian mereka ada yang sampai memaksa, semata-mata untuk mencari keuntungan duniawi yang rendah itu dan bekerja yang jijik dan murahan.

Maka setelah Islam datang, seluruh anak-anak, putra maupun putri diangkat dari perbuatan yang hina itu. Kemudian turunlah ayat yang mengatakan,

وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَمَنْ يُكْرِهْهُنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya:

Jangan kamu paksa hamba-hambamu untuk melacur jika mereka memang ingin dirinya terjaga, lantaran kamu hendak mencari harta untuk hidup di dunia.” ( Q.S. An-Nur: 33)

Dengan demikian, maka Nabi melarang mencari mata pencaharian dengan usaha yang kotor ini, betapa pun tingginya bayaran yang diperoleh. Beliau pun tetap tidak memperkenankan setiap apa yang dikatakan karena terpaksa, karena kepentingan atau untuk mencapai sesuatu tujuan. Motifnya supaya masyarakat Islam tetap bersih dari kotoran-kotoran yang sangat membahayakan ini.

 

Panti Pijat

Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta pada 12 Agustus tahun 2000, mengeluarkan fatwa tentang panti pijat yang mulai marak pada saat itu.

Dalam fatwa tersebut diterangkan bahwa pada dasarnya, agama Islam memperbolehkan pemijatan yang dilakukan untuk mengembalikan kesehatan tubuh atau meningkatkan kesegaran jasmani sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang sehat, serta mampu melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, baik tugas untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT, maupun tugas sebagai khalifah-Nya di muka bumi sesuai petunjuk-Nya.

Pijat yang merupakan upaya manusia untuk meningkatkan dan mengembalikan kesegaran jasmani, diperbolehkan oleh ajaran Islam dan dinilai sebagai suatu hal yang wajar jika pelaksanaan pijat tersebut tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan agama. Syarat disebut sebagai praktik pijat yang wajar, apabila saat terapi yang dipijat adalah seorang pria, maka harus dipijat oleh pria juga. Sebaliknya jika yang dipijat wanita, maka yang memijat harus wanita, kecuali jika mereka suami isteri atau masih memiliki hubungan mahram. Hal ini di dasarkan pada hadist shahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu ‘Abbas RA. Sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِإِمْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

Artinya:

“Janganlah sekali-kali seseorang lelaki berkhalwah (bersepi-sepi) dengan wanita (lain yang tidak mempunyai hubungan mahram), kecuali jika dibarengi mahramnya”.

Hiburan dalam Islam

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya:

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentera. (Q.S Ar-Ra’d : 28)

Tempat-tempat kemaksiatan semacam diskotek, tempat prostitusi dan lainnya yang memalingkan seseorang dari mengingat Allah, sebenarnya ada karena juga adanya orang-orang yang hendak mencari hiburan bagi dirinya. Mencari kesenangan dan melepas penat dari hiruk pikuk rutinitas sehari-hari.

Tentulah Allah sebagai pencipta manusia, mengerti betul bagaimana sifat ciptaannya yang penuh keluh-kesah, hingga diturunkanlah ayat 28 surat Ar-Ra’d yang disebutkan di atas. Melalui ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa ketenangan hati dan pikiran yang hakiki,  hanya bisa diraih dengan berdzikir kepada Allah.

Beberapa macam permainan dan seni hiburan juga pernah dicontohkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk kaum muslimin guna memberikan kegembiraan dan hiburan mereka, dimana hiburan itu juga dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi ibadah dan melaksanakan kewajiban juga mendatangkan ketangkasan. Seperti: Gulat yang tidak berniat untuk menyakiti lawan, menunggang kuda, memanah, catur dan kegitan lain yang tidak mengandung keharaman dan larangan di dalamnya. Perlu diingat bahwa hukum asal perbuatan selain ibadah adalah boleh hingga ada dalil yang mengharamkannya.

Semoga kita, keluarga kita dan kaum muslimin seluruhnya, terhindar dari perilaku bisnis yang diharamkan Allah Ta’ala, seperti yang tercermin dalam kegiatan-kegiatan haram pada kasus AXS. Adapun bagi para pekerja dan penikmat kegiatan haram di sana, semoga bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik dengan adanya penutupan AXS ini. Sementara dari sisi pemerintahan, semoga kebijakan-kebijakan yang mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dan mengajak takut kepada Allah tuhan semesta alam, selalu diterapkan demi terwuudnya Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur (Negeri yang baik dan mendatangkan ampunan Allah)

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Penyusun: Al khaledi Kurnialam

Referensi “Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA, Cetakan XVII, 2017

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.