Mengintip Hidayah Pemilik Rumah Meneer

(Warung Meneer: Salah satu usaha bisnis Bondan Nurtjahjono yang saat ini semakin berkembang)

Seorang petinggi perusahaan telekomunikasi yang karena di-PHK, terlilit utang hingga lima milyar. Enam bulan luntang-lantung mencari pekerjaan, hingga mencoba peruntungan di bisnis Multi level marketing (MLM) yang tidak juga memberikan hasil, membuatnya menarik kesimpulan bahwa dirinya sedang ditegur agar bisa menapaki jalan Allah.

Bondan Nurtjahjono adalah seorang muallaf sejak SMA. Memiliiki lingkungan keluarga non muslim, ditambah alasannya menjadi muslim karena malas ke gereja, menjadikan islam hanya sebagai status yang dituliskan di KTP-nya saja tanpa pelaksanaan ajarannya. “Saya baru mengakui Nabi Muhammad itu waktu SMA, namun mengenal Islam lebih jauh baru sekitar dua tahun ini” Ucap Bondan menceritakan perjalanannya mengenal islam.

Karena minimnya pemahaman itu, Bondan mengaku bahwa saat remaja ia sangat dekat dengan kemaksiatan. Narkoba dan minuman keras merupakan hal yang biasa dikonsumsi olehnya. “Sejak remaja, semua jenis Narkoba dari yang level rendah sampai level yang paling mahal pernah saya coba” tutur Bondan, dengan nada suara menyesal.

Kehidupan yang serba berkecukupan semakin membuatnya terlena. Selepas kuliah dan berumah tangga, ia menjabat sebagai salah seorang area leader perusahaan telekomunikasi besar dengan penghasilan puluhan juta, hal itu membuat Bondan semakin jemawa. Hingga suatu hari, ia dinyatakan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan yang selama ini menopang kebutuhan finansialnya.

“Saat itu saya merasa hancur, setidaknya hutang total saya saat itu ada 5 milyar, saya merasa semua pintu rezeki saya tertutup, mau bisnis tidak punya background dagang, bahkan teman-teman saya saat masa jaya dulu seperti lenyap tidak ada yang bisa dihubungi”. Tutur pria kelahiran 31 oktober 1978 tersebut.

Enam bulan lamanya ia mencari-cari pekerjaan tanpa hasil. Hingga suatu hari ia merasa berada pada titik dimana harus berbenah diri. “Cara yang terpikir demi meminta petunjuk  Allah atas permasalahan saya saat itu adalah sholat, kewajiban yang selama ini saya tinggalkan”. Jelasnya.

Seiring waktu Bondan bertekad untuk berhijrah ke jalan Allah dengan mendawamkan shalat lima waktu di masjid, ia semakin dekat juga dengan para jamaah masjid.  Entah, apakah ini adalah cara Allah yang ingin mendekap hambanya yang ia kasihi, ternyata melalui para jamaah masjid itu satu persatu solusi dari permasalahan Bondan terjawab. Sahabat-sahabatnya yang ia kenal di masjidlah yang membantunya memulai bisnis obat-obatan herbal.

Azzamnya untuk berbenah diri untuk hijrah ke jalan Allah ternyata seperti membuka keran solusi yang selama ini tetutup. Masalah finansialnya lambat laun berkurang, hingga pada april 2016 Bondan telah membuka Rumah Meneer sebuah restoran di kota malang, Ia juga menjadi reseller oleh-oleh yang outletnya saat ini tersebar di berbagai bandara dan stasiun di kota besar  Indonesia, hingga usaha pengamanan tamu-tamu VIP yang saat ini sedang dikembangkan.

“Saya pun tidak tahu kenapa, jika ditanya kenapa saya bisa memperoleh nikmat yang seperti sekarang ini, saya merasa semua urusan saya dimudahkan oleh Allah, bantuan datang bertubi-tubi dari orang yang tidak saya sangka, bukan bos-bos atau orang elit yang saya kenal dulu yang membantu saya, tapi justru sahabat-sahabat yang selama ini shalat bersama di masjid”. Terangnya.

Selain menemukan solusi dari masalah finansialnya, saat ini ia merasakan ketenangan hati dan ketenangan dalam rumah tangga. Jika dahulu mudah marah kepada istri dan anak, saat ini bondan selalu berusaha lebih perhatian dan lebih sejuk dalam bermuamalah dalam keluarga. “Jika dulu saya pulang kerja selalu dalam keadaan mulut bau alkohol, sekarang selalu saya usahakan pulang ke rumah dalam keadaan wudhu terjaga”. Ucap pria asli Jakarta tersebut.

Hubungan Bondan dengan keluarganya yang masih non muslimpun saat ini terasa lebih harmonis. “Agak kaget saya sebenarnya mendapat nasehat dari seorang ustadz yang menjelaskan bahwa hak orang tua tidak berkurang sama sekali meskipun beliau bukan seorang muslim, sebegitu agungnya ajaran islam memandang hubungan orang tua, itu yang membuat saya semakin kagum dan ingin mempelajari islam”. Jelasnya.

Saat ini Bondan mengaku semakin haus akan ilmu islam. Ia mengisahkan dirinya yang selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi para ulama atau pesantren. Bahkan menggambarkan diri sendiri seperti empty cup (gelas kosong)  dalam mendapatkan ilmu islam. “Ternyata ilmu Al-qur’an itu luas sekali, tidak bisa menjawab semua persoalan dengan rujukan hanya satu ustadz, itu yang membuat saya harus melebarkan gelas kosong saya lagi” ucap pria yang merupakan alumni Perbanas itu.

Ia juga mengisahkan dirinya yang sempat belajar di Sekolah Muamalah Indonesia, “Setelah belajar di Sekolah Muamalah pandangan saya tentang harta menjadi berubah, harta bukanlah tujuan, usaha yang saya jalani saat ini juga merupakan bentuk aplikasi dari ilmu yang saya dapat di Sekolah Muamalah”. Jelas alumni Sekolah Muamalah Indoneisa angkatan satu ini.

“Jika saya mengambil kesimpulan dari perjalan hidup saya, maka sebenarnya hidayah itu tergantung bagaimana seseorang mempersiapkan diri fisik dan mental dalam menggapai hidayah tersebut, hidayah bisa datang dengan cepat dan bisa lambat. Bila kita mempersiapkan fisik dan mental untuk menerima hidayah dengan cepat maka seperti yang saya rasakan hidayah itu seperti menggerojok jatuh dengan cepat” simpul Bondan dari apa yang dialaminya.

Semoga kebaikan yang berlimpah terus diberikan untuk saudara kita ini.

Wallahu a’lam. Semoga Bermanfaat

 

Penulis: Al khaledi Kurnialam

Hasil Wawancara Eksklusif dengan Bondan Nurtjahjono, Alumni SMI Cabang Malang angkatan 1

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.