[Lanjutan] Hakikat Riba Pada Ojek Online

[Lanjutan] Hakikat Riba Pada Ojek Online

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Setelah kami membaca tanggapan, diskusi dan pertanyaan pada artikel sebelumnya yang berjudul Riba Pada Ojek Online yang Masya Allah sangat banyak, antusias dan sangat mengandung keingintahuan masyarakat dalam mengkaji Ilmu Muamalah dengan tujuan mendapat keberkahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka kami dari Sekolah Muamalah Indonesia mencoba menjelaskan lebih lanjut mengenai dasar muamalah yang seharusnya diberikan sebelum kajian permasalahan Muamalah Kontemporer.

Karena tanpa memahami dan mendalami konsep dasar Fiqih Muamalah Maaliyah maka akan terasa janggal atau mungkin asing untuk mencapai pemahaman saat ada pembahasan masalah Muamalah Kontemporer bagi yang membaca atau mendengarnya.

 

  1. Prinsip dasar Fiqih Muamalah Maaliyah memberikan pemahaman bahwa :
  • Hutang (Qordh) adalah pengalihan kepemilikan harta (kesepadanan) kepada orang yang diwajibkan untuk mengembalikan semisal harta tersebut.
  • Ijarah (Sewa) adalah transaksi tertentu terhadap suatu manfaat yang dituju , bersifat mubah dengan imbalan tertentu menurut Imam syafi’i. Menurut imam hanafi, ijarah yaitu akad atas kemanfaatan tertentu dengan pengganti ( upah ). Menurut jumhur ulama fiqh, ijarah yaitu menjual suatu manfaat yang boleh disewakan, serta hanya manfaatnya bukan bendanya yang disewakan.
  • Wadi`ah (atau penitipan), kata ini diambilkan dari barang yang ditinggalkan pada orang yang diminta untuk menjaganya, dengan tanpa ganti/biaya beban. Wadi`ah pada dasarnya merupakan akad yang bersifat sosial, dan bukan bersifat komersil. Akad Wadi`ah ini berdiri berdasarkan kasih sayang dan tolong menolong, sehingga tidak mengharuskan adanya imbalan dalam menjaga titipan tersebut.

 

  1. Setelah kita memahami point pertama, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa deposit dana (uang yang mengendap) di rekening GO-PAY bisa bermakna dua, Hutang/Qardh (sama halnya dengan tabungan di bank) atau sewa dibayar dimuka (ijarah, sama halnya dengan pulsa prabayar).

 

Kenapa Menabung di Bank di Hukumi Hutang/Qordh?

 

Karena pada saat menabung uang di bank, bank bebas memakai uang nasabahnya dan harus/wajib untuk dapat mengembalikan uang nasabah kapan saja nasabah membutuhkannya.

 

  1. Marilah kita bersama-sama meneliti dan memeriksa term of conditions dari www.go-pay.co.id/terms. [Dilihat pada hari Jumat, 10 Februari 2017, backup penampilan hasil file html tersimpan di website kami. klik disini]

  1. Pada bagian akhir dijelaskan bahwa ketika dalam masa kontrak (install aplikasi), dana bisa ditarik selama lebih dari limit (Rp 2.000.000,-), artinya ada dana mengendap sebesar Rp 2.000.000,-, yang tidak bisa ditarik oleh konsumen (namun bisa dipakai).[lihat klausul: Pembukaan Rekening dan Isi Ulang Saldo Rekening Aplikasi GO-PAY (Poin D)]

  1. Ketika kontrak diakhiri (penutupan aplikasi), dan rekening ditutup, uang yang tersisa (setelah dikurangi biaya) dikembalikan. Dan ketika saldo uang kurang dari biaya, maka pengguna (pemilik uang) wajib membayar kekurangannya.

 

  1. Ilustrasinya adalah bahwa kalau saldo kita Rp 2.500.000,-, maka maksimal yang dapat diambil Rp 500.000,- dan jika saldo uang kita hanya Rp 1.000.000,- maka tidak dapat ditarik uangnya, kecuali rekeningnya ditutup, namun tetap dapat dipakai untuk bertransaksi. Ketika aplikasinya ditutup, saldo uang kita masih Rp 500.000,-, setelah dikurangi biaya (misalnya: Rp 100.000,-), maka sisa uang Rp 400.000,- akan dikembalikan kepada kita.

 

  1. Kesimpulan dari Sekolah Muamalah Indonesia adalah bahwa dana deposit top-up GO-PAY sama persis dengan skema tabungan di bank, dengan perbedaan yaitu tanpa bunga dan kebijakan saldo minimal (penarikan dana) setelah diambil sebesar Rp 2.000.000,- (lebih besar dari bank yang biasanya hanya mengenakan Rp 50.000 untuk para nasabahnya).

 

  1. Karena dana deposit top-up GO-PAY sama halnya dengan tabungan di bank, maka akadnya adalah Hutang-Piutang (Qordh). Jika akadnya Hutang-piutang (Qordh) maka tidak boleh pihak yang memberikan hutang mendapat tambahan manfaat dari yang berhutang selama hutang-piutang (Qordh) masih berjalan, itulah sebabnya kenapa bonus yang diberikan oleh gopay merupakan tambahan manfaat yang diterima konsumen/nasabah GO-PAY saat mendepositkan uang/dana ke gopay hukumnya menjadi Riba.

 

  1. Lalu bagaimana dengan adanya pendapat jika uang yang di topup ke GO-PAY adalah titipan dan bukan Hutang?

 

Perlu dipahami bahwa Akad memberikan Uang didepan kepada pihak lain, dan ada jaminan (dhaman) pihak lain tersebut akan mengembalikan uang tersebut dan pihak lain boleh menggunakan uang tersebut untuk apapun, dan akan mengganti jika hilang maka akad penyerahan uang saat topup ini disebut Hutang (Qordh).

 

Jika akadnya adalah Titipan (Wadiah), maka uang yang dititipkan tersebut tidak boleh dipakai oleh pihak yang dititipkan dan harus dipisahkan rekening setiap orang supaya uang yang dititipkan tersebut tidak bercampur, dan jika barang yang dititipan tersebut hilang maka pihak yang dititipkan barang tersebut tidak menanggung atau menggantinya.

 

Oleh karena nasabah GO-PAY memberikan uang yang nantinya akan diambil kembali untuk digunakan membayar jasa berikutnya, maka saat nasabah melakukan top-up atau mendaftar GO-PAY hakikatnya adalah nasabah telah menghutangi GO-PAY dan bukan menitipkan uangnya.

Kesimpulan:

Alhamdulillah.. Setelah membaca penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa :

  1. Akad sejatinya dari layanan GO-PAY adalah Qordh (hutang) yang di berikan nasabah kepada pihak GO-PAY, bukan Ijarah (sewa) seperti Pulsa, atau Wadi’ah (titipan).
  2. Ketika akad top-up atau deposit GO-PAY ini adalah Qordh, maka pihak nasabah sebagai pemberi hutang terlarang menerima tambahan manfaat berupa bonus ataupun yang semisalnya dari GO-PAY sebagai pihak yang berhutang karena itu adalah Riba.
  3. Hukum memakai GO-PAY pada asalnya adalah Halal, asalkan tidak memakai atau mendapatkan potongan harga maupun tambahan manfaat lainnya, karena hal itulah yang menjadikannya Riba.

Bagi yang memiliki pendapat ‘kok semua menjadi Riba’, mempersulit diri, terlalu ektrim dan lain-lainnya, kami sungguh mohon maaf, kami hanya menyampaikan Amar ma’ruf nahi Munkar, mewujudkan rasa kasih sayang sesama muslim dengan saling mengingatkan.

Pilihan ada pada Anda, tugas sesama muslim adalah saling mengingatkan.

Semoga Allah SWT selalu memberikan Taufiq dan Hidayah kepada kita semua dan menjaganya.

Mohon maaf kami sengaja tidak menjawab satu-persatu pertanyaan, bantahan, cacian, bahkan fitnah yang ada di media sosial karena untuk menghindari debat kusir, InsyaAllah semua ada dalil dan solusi syar’inya.

Terimakasih atas saran, masukan dan dukungannya.

Barakallahu fiikum.

Berilmu Sebelum Berdagang.

baca juga :

bit.ly/ojekriba

bit.ly/ojekriba3

21 Comments

  1. Admin, maaf….
    Itu limit 2 jt adalah batas maksimal saldo go pay. Apabila saldo melebihi limit, maka akan dikembalikan…. Jd bukan mengendap 2 jt dan tdk bs d ambil. Coba di baca lagi TC nya….

    Kemudian mengenai Hutang. Bukankah kalau Hutang bs diambil setiap saat spt di Bank. Klo go pay tdk bisa.

    Klo Go Pay dihukumi riba , maka semua e-money ( uang elektronik ) adalah riba juga apabila memberi promo maupun diskon2….

    Reply
    • Pembukan rekening dan isi ulang, poin D

      Pengguna dapat mengisi ulang saldo rekening Fitur GO-PAY dengan mengikuti petunjuk dalam Aplikasi GO-JEK. Setiap jumlah saldo yang telah ditransfer kedalam rekening Fitur GO-PAY Pengguna tidak dapat ditarik kembali dari rekening Fitur GO-PAY kecuali dalam halnya saldo rekening fitur GO-PAY Pengguna melebihi limit yang ditentukan sebagaimana diatur pada bagian Limit dan Biaya dibawah.

      Reply
    • Ya tidak seperti itu lah, hukum Islam itu berbeda, anda tidak bisa mengatakan semua e money riba, perlu dikaji satu persatu

      Reply
    • Admin, maaf..
      tapi saat saya baca term and condition, 2 juta itu adalah limit batas maksimal.

      sebelum viral dan dibaca lebih banyak orang, sebaiknya Ilustrasi pada poin 6 sebaiknya diperbaiki, lalu dilihat lagi apakah perubahan ilustrasi tersebut berpengaruh terhadap kesimpulan atau tidak?

      semangat admin!
      barakallahu fiik..

      Reply
  2. Ilustrasinya adalah bahwa kalau saldo kita Rp 2.500.000,-, maka maksimal yang dapat diambil Rp 500.000,- dan jika saldo uang kita hanya Rp 1.000.000,- maka tidak dapat ditarik uangnya, kecuali rekeningnya ditutup, namun tetap dapat dipakai untuk bertransaksi. Ketika aplikasinya ditutup, saldo uang kita masih Rp 500.000,-, setelah dikurangi biaya (misalnya: Rp 100.000,-), maka sisa uang Rp 400.000,- akan dikembalikan kepada kita.

    Kesimpulan dari Sekolah Muamalah Indonesia adalah bahwa dana deposit top-up GO-PAY sama persis dengan skema tabungan di bank, dengan perbedaan yaitu tanpa bunga dan kebijakan saldo minimal (penarikan dana) setelah diambil sebesar Rp 2.000.000,- (lebih besar dari bank yang biasanya hanya mengenakan Rp 50.000 untuk para nasabahnya).

    ————————————

    Tolong Admin, kalau membuat ilustrasi di yakinkan dlu apa benar seperti itu.

    Dimana ada di ketentuan saldo minimal adalah 2 juta??

    Isi topup 20 ribu saja bisa dan bisa dipakai sampai habis…

    Dimana ada di ketentuan tidak bisa di ambil 2 juta. Yg bs diambil hanya selebihnya??
    Tolong dibaca lagi ya admin. Benar…kita berilmu sebelum beramal…. Tapi kita juga harus tau persos dulu bagaimana mekanisme kerja nya yg sedang dibahas.

    Reply
  3. Afwan.. kenapa pulsa prabayar menjadi boleh? padahal sistemnya sama.. produknya saja yang berbeda.. gopay, produknya adalah makanan atau jasa sewa ojek/kurir.. sedang pulsa, produknya adalah jasa pemakaian telekomunikasi..

    Kalau gopay yang ditinjau adalah sistem saldonya, lalu kenapa pada pulsa prabayar yang ditinjau langsung pada produknya.. kalau pulsa dikatakan boleh karena produknya adalah jasa sewa, maka pada gopay juga boleh karena produknya adalah jasa membelikan makanan, kurir, ojek.. namun bukan itu kan yang seharusnya ditinjau, sudah benar artikel di atas, bahwa yang ditinjau itu sistem keluar masuknya uang.. namun sayangnya, pada pulsa langsung potong jalur, ditinjau langsung pada produknya..

    Sistemnya sama.. konsumen memasukkan uang ke gopay / perusahaan cellular.. pada gopay bisa transfer langsung (diatur oleh PT. DOKAB), sedangkan pada pulsa, uang kita masukkan melalui voucher gesek/elektrik.. setelah itu, uang kita tersebut tercatat secara sistem. pada gopay disebut saldo gopay, pada HP disebut PULSA.

    Nah, setelah uang kita masuk.. barulah kita bisa menikmati produk2 mereka. bgtu pak ustadz.. Ketika kita ingin dibelikan makanan seharga 10rb, maka saldo gopay akan terpotong 10rb (diluar jasa kurir), begitu jg pulsa.. ketika kita nelpon 1 menit dengan tarif 1000, maka pulsa kita terpotong 1000.. jadi tolong peninjauannya yang berimbang.. Kalau pada gopay yang ditinjau adalah sistem pembayaran dllnya, maka pada pulsa pun HARUS DEMIKIAN. Itu proses duit di kantong trus bisa jadi pulsa, bagaimana ceritanya, tolong ditinjau, akad apa yang kita pakai? dan tolong jangan terkecoh pada proses BELI PULSAnya, karena hakikatnya itu adalah proses memasukkan uang agar menjadi PULSA.. sama seperti proses memasukkan uang sehingga menjadi saldo gopay.. Jadi, abaikan dl produknya, klo produknya, pulsa dan gofood/gojek.. insyaAllah Halal kan?

    Namun kita di sini mengkritisi proses pembayaran, keluar masuknya uang, akad apa yang digunakan saat kita mentransfer uang ke gopay, dan memasukkan uang ke PULSA..

    Jadi.. tolong ditinjau lagi..

    Reply
  4. Ustadz, klo saya pakai kartu kredit trus dapat diskon gimana? Misal beli tiket pesawat kalau pakai kartu kredit dapat diskon 10%, bagaimana hukumnya?

    Reply
    • .admin hny menysmpaikam amar ma’ruf nahi munkar…sdh jelas poin2 tsb detail… jgn dibahas yg 2.5jt, tp lihatlah dgn bijak makna dr trsnsaksi tsb..yg sgt jelas memberikan lebih dalam pinjsman adalah bunga riba…
      Kita hidup dizaman yg dikelilingi sistem KAPITALIS … yg ssh utk dihindari oleh pemerintah kita,
      Berilmu dahulu , lakukan sesudahnya !!!
      Syukron wa jazzaksllohu khairan katsir admin…

      Reply
  5. Komentar di bawah saya lebih dahulu dipublish.. sementara komentar saya masih menunggu moderasi.. jika didapati pada komentar saya, kata2 kasar, atau tidak pantas.. mohon disampaikan kepada saya, agar saya bisa memperbaikinya..terimakasih

    Reply
  6. mohon kepada akhi admin, bisa diperjelas lagi,bisakah deposit tersebut masuk akad salam,spt kartu pulsa atau kartu belanja? karena secara normal,uangnya tdk bisa kita tarik kapan saja, kemudian uang yg kita depositkan tidak balik dalam bentuk uang, tapi bentuk jasa (go ride) atau barang (go mart).jazakumullahu khair

    Reply
  7. kpd akhi admin,mohon penjelasannya,bisakah deposit tsb masuk akad salam,seperti kartu belanja atau kartu pulsa?krn secara normal,uangnya tdk bisa kita tarik kapan saja,kemudian uang yg kita depositkan tidak balik dalam bentuk uang,akan tetapi jasa (go ride) atau barang (go mart). Kemudian apabila bisa masuk akad salam,apakah potongan harga yg diberikan bisa dianggap riba?jazakumullahu khair

    Reply
  8. Baiknya penulis melakukan research lebih dalam ke perusahaan transportasi online yang dimaksud agar tidak mengambil kesimpulan yang salah lalu menghasilkan keresahan.

    Reply
  9. Jazaakallah khair atas ilmunya….

    Reply
  10. Apakah anda sudah tabaayun dengan berdiskusi dengan pihak gojek?? atau hanya dengan penafsiran anda sendiri sudah cukup dijadikan hujjah untuk fatwa anda??

    Reply
  11. Assalamualaikum…
    Bismillah, sekalian lanjut dari komentar saya pada edisi pertama tentang bahasan riba ojek online dengan menggunakan transaksi online.
    Tabungan di bank tidak otomatis sama dengan qardh (hutang) , tergantung akadnya. Ada transaksi wadiah (titipan) dimana nasabah penabung sama sekali tidak menerima bagi hasil. Untuk beberapa bank, untuk tabungan wadiah ini nasabah dikenakan biaya penitipan yang besarannya disepakati pada saat pembukaan rekening. Namun ada juga tabungan wadiah yang sama sekali tidak ada biaya penitipan, salah satu contohnya adalah produk Tabunganku di bank syariah yang pernah dicanangkan pemerintah.
    Transaksi tabungan dalam bentuk lain juga disediakan oleh perbankan syariah seperti mudharabah atau musyarakah yang menawarkan bagi hasil sesuai dengan kesepakatan bank dan nasabah pada saat pembukaan rekening.

    Demikian, wallahu a’lam

    Reply
  12. Ustadz, boleh ngga ana pake go-pay tapi manfaatnya tidak ana gunakan dengan cara, potongan harga ana berikan / kembalikan ke pengemudi ?

    Reply
  13. Assalamualaikum wr.wb..
    Maaf akhi…sy driver online, kalau sy liat pertgl 8 februari’17 ,pihak gojek company memberlakukan jika konsumen ingin mengisi topup gopay via driver aplik..25rb-49rb,pelanggan dpt bonus gopay 25rb…
    Topup 50rb pelanggan dpt bonus gopay 50rb…berarti 100% fantastiss bukankah ini RIBA ???
    Dan promo ini hny berlaku bg pelanggan lama GOJEK yg BELUM PERNAH menggunakan gopay & berlaku hny SEKALI saja utk stiap pelanggan, dan setiap dana topup tsb driver mndapatkan bonusRp.2.000…mhn di koreksi..smg kita selalu diberi hidayah dlm melakukan apapun transaksi dan selalu ittiba sesuai hujjah ..wallahu a’lam ,
    Jazzakallah khair..sy org awam..

    Reply
  14. bismillah. istilah limit dalam s&k gopay bukan yg anda sebut sbg dana mengendap, melainkan batas atas (plafon) yg boleh dimasukkan ke dalam deposit, yaitu maksimum Rp2 juta.

    kalau kita masukkan Rp2,5 juta maka yg Rp500 ribu akan dikembalikan, sedangkan yg Rp2 juta adalah deposit yg bisa kita gunakan utk transaksi gojek.

    dan memang hanya dapat ditarik apabila kita menutup aplikasi secara penuh setelah dikurangi biaya.

    Reply
  15. Afwan, ana masih merasa janggal dengan ilustrasi point 6 .. mungkin bisa di cek kembali, karena yang ana baca dalam Term Of Conditions nya 2jt itu limit maksimal saldo, ketika saldo melebihi 2 jt, maka PT DOKAB akan memverifikasi dan dapat mengembalikan kelebihannya ke rekening Asal.

    Reply
  16. Akadnya menjadi hutang karena dana go-pay bisa ditarik kebambali dgn syarat2 tertentu seperti bank, Solusi buat go pay gampang saja, tinggal rubah term nya menjadi seperti pulsa telpon, langsung halal.

    Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. Go Pay Kok Hutang – Ahmad Ifham - […] Read more: http://sekolahmuamalah.com/lanjutan-hakikat-riba-pada-ojek-online/#ixzz4YQLk1kW1 […]
  2. [Final] TAKYIIF FIQHIY Deposit Uang di GO-PAY | Sekolah Muamalah - […] [Lanjutan] Hakikat Riba Pada Ojek Online […]
  3. Agar Go Pay Sesuai Syariah – Welcome - […] Read more: http://sekolahmuamalah.com/lanjutan-hakikat-riba-pada-ojek-online/#ixzz4YQLk1kW1 […]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.