0815 1321 1333 info@sekolahmuamalah.com

Kredit Emas: Riba!

 

Sebuah perusahaan jasa transaksi jual-beli emas dengan platform digital atau via aplikasi smartphone dengan inisial TA baru-baru ini muncul di Indonesia. Perusahaan ini mangklaim sebagai aplikasi jual beli emas berlandaskan syariah atau dengan tata cara agama Islam. Klaim sebagai perusahaan jual beli syariah ini, dengan alasan bahwa pembelian emas dilakukan transparan, tanpa uang muka, tanpa uang denda/penalti dan bila pembeli tidak mampu menyelesaikan pembayaran, maka pembeli akan menerima uangnya kembali. Hal menarik lain yang diberikan aplikasi ini adalah tata cara jual beli emas yang bisa dilakukan dengan jual beli tunda/kredit.

(Sumber: Aplikasi TA)

Kemunculan aplikasi ini tentulah sebuah terobosan baru pada pasar jual beli emas. Pasar emas yang relatif besar ditambah klaim syariah yang disematkan, tentulah menjadi angin segar bagi masyarakat Indonesia yang penduduk mayoritasnya adalah muslim. Namun, sebagai muslim yang setiap aktivitasnya berlandaskan pada taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentunya patut untuk melakukan cross-check atau tabayun atas fenomena yang dilihat. Apakah sudah benar klaim Syariah yang disematkan pada perusahaan ini? Apakah sah jual beli emas dengan cara yang ditawarkan aplikasi ini?. Artikel ini akan mencoba menjawab pertanyaan di atas berikut prihal jual beli emas dalam islam.

Jual Beli Emas

Secara umum, pedoman jual beli emas tersirat dalam sebuah hadits, dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَد

Artinya:

“Emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum ditukar dengan gandum, sya’ir ditukar dengan sya’ir, kurma ditukar dengan kurma, garam ditukar dengan garam, kadarnya harus semisal dan sama, harus dari tangan ke tangan (kontan). Jika jenisnya berbeda, maka juallah sesuka kalian, selama dilakukan dari tangan ke tangan (kontan)” (HR. Al Bukhari, Muslim no. 1587, dan ini adalah lafadz Muslim)

Maka dari hadits di atas dalam kajian muamalah maaliyyah, emas disebut dengan istilah “Barang Ribawi” yaitu harta benda yang bisa terjadi riba pada transaksi jual-belinya, sehingga perlakuan jual beli pada objek emas dibedakan dengan objek yang tidak termasuk sebagai barang ribawi.

Kaidah jual beli Barang Ribawi

(Sumber: Aplikasi TA)

Dalam tukar menukar barang Ribawi ada 3 kemungkinan yang terjadi

  1. Menukar harta Riba dengan harta riba yang sejenis, seperti: emas ditukar dengan emas dan kurma dengan kurma.

Keabsahan akad ini dibutuhkan dua syarat:

  1. Ukuran keduanya harus sama, sama berat jika satuan barang berdasarkan timbangan dan sama volume bila satuannya berdasarkan liter.
  2. Serah terimanya harus tunai di majelis akad

Jika syarat pertama tidak terpenuhi, akad ini dinamakan riba fadhl dan jika syarat kedua tidak terpenuhi akad ini dinamakan riba nasi’ah dan jika kedua syarat tidak terpenuhi akad ini dinamakan riba fadhl nasi’ah

  1. Menukar harta riba dengan harta riba yang tidak sejenis tapi satu illat, seperti menukar kurma dengan gandum, emas dengan perak. Syarat keabsahan akad ini hanya dibutuhkan satu syarat saja yaitu serah terima kedua barang harus tunai dan tidak disyaratkan ukurannya sama
  2. Menukar harta riba dengan harta riba yang tidak sejenis dan tidak satu illat seperti menukar kurma dengan emas. Dalam akad ini tidak ada persyaratan harus sama ukurannya dan juga tidak disyaratkan tunai

Pada kasus perusahaan TA ini, transaksi jual beli emas dilakukan secara online, yaitu pembeli bertransaksi via aplikasi yang kemudian emas dikirimkan kepada pembeli setelah emas telah lunas dibayarkan kepada perusahaan TA. Sampai pada pembahasan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa aktivitas yang berlangsung pada perusahaan ini adalah:

  • Pembeli membeli emas dengan uang
  • Transaksi jual beli emas dilakukan kontan (bisa juga kredit)
  • Ada jeda waktu diterimanya emas

Setelah melihat poin-poin diatas, dapat disimpulkan bahwa transaksi ini syarat akan Riba Nasi’ah (pada pembelian tunai) yaitu serah terima emas yang dilakukan dengan tidak langsung di majelis akad. Padahal seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa pembelian emas haruslah diserah terimakan langsung di majelis akad.

Selanjutnya, pada transaksi di perusahaan TA juga dimungkinkan untuk membeli emas dengan cara berangsur/kredit. Dalam hal ini, mari kita bahas dahulu kaidah jual beli kredit.

Dalam akad Jual beli kredit, ada persyaratan yang bila tidak dipenuhi dapat membatalkan akad, bahkan menjadikan jual beli ini menjadi riba dan keuntungan akadnya menjadi haram. Yaitu:

  1. Akad ini tidak dimaksudkan untuk melegalkan Riba. Maka Jual beli ‘inah tidak dibolehkan. Tidak boleh juga dalam akad jual beli kredit, dipisah antara harga tunai dan margin yang diikat dengan waktu dan bunga
  2. Barang terlebih dahulu dimiliki penjual sebelum akad jual beli ini dilakukan.
  3. Pihak penjual kredit tidak boleh menjual barang yang telah dibeli namun belum diterima dan belum berada di tangannya
  4. Barang yang dijual bukan merupakan emas, perak atau mata uang. Maka tidak boleh menjual emas dengan cara kredit karena ini termasuk riba ba’i
  5. Barang yang dijual secara kredit harus diterima pembeli secara tunai pada saat akad berlangsung. Maka tidak boleh transaksi jual beli kredit yang dilakukan hari ini dan barang diterima pada keesokan harinya karena ini termasuk jual beli hutang dengan hutang yang diharamkan
  6. Pada saat transaksi, harga harus satu dan jelas. Serta besarnya angsuran dan jangka waktunya juga harus jelas
  7. Akad jual beli kredit harus tegas maka tidak boleh akad dibuat dengan cara beli sewa
  8. Tidak boleh membuat persyaratan kewajiban membayar denda atau harga barang menjadi bertambah jika pembeli terlambat membayar angsuran

Dari penjelasan kaidah jual beli kredit di atas, dapat diketahui bahwa transaksi TA sudah menyelesihi kaidah jual beli kredit, seperti yang dijelaskan pada poin keempat. Yaitu, menjual emas dengan cara berangsur atau tidak tunai.

Semoga penjelasan ini menjadi manfaat bagi setiap muslim yang baru akan berusaha dalam jual beli emas dan memperbaiki akad keliru yang mungkin telah terlanjur dilakukan, sehingga kita terhindar dari jebakan riba.

‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

Artinya:

Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.

 

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Penyusun: Al khaledi Kurnialam

Referensi “Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA, Cetakan XVII, 2017

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.