Jual Beli Rumah Dengan Skema Dua Harga  

 

Assalamualaykum wa rahmatullahi wa barakaatuhu

Ana ada pertanyaan mengenai jual beli rumah/mobil dengan dua harga: cash dan kredit (tempo) yang sebagian menganggapnya sebagai jual beli dengan dua harga dalam satu penjualan yang jatuh hukumnya pada keharaman.

Namun seingat ana dalam kelas dijelaskan, bahwa hal ini diperbolehkan asalkan satu dari dua harga tersebut ditetapkan sebelum akad dilaksanakan.

Namun, ana baca bahwa hadist yang terkait diatas dianggap tidak shahih sebagaimana tertulis di bawah ini:

Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq juga (14631) dengan sanad yang shahih juga. Abdur Razaq juga meriwayatkan (pada no 14626), demikian pula Ibnu Abu Syaibah (VI/120) dari jalan Laits dari Thawus dengannya (perkataan di atas,-pent) secara ringkas, tanpa perkataan : “Lalu terjadi jual beli…” tetapi dengan tambahan (riwayat) : “Kemudian (jika penjualnya, -pent) menjual dengan salah satu dari kedua harga itu sebelum (pembeli, -pent) berpisah dari (penjual), maka tidak mengapa”. Akan tetapi ini tidak shahih dari Thawus, karena :Laits –yaitu Ibnu Abu Salim- telah berubah ingatan (karena tua).

Lalu pendapat dari syekh Albani:

Ketahuilah akhi (saudaraku) Muslim ! bahwa mu’amalah tersebut yang telah tersebar di kalangan para pedagang dewasa ini, yaitu jual beli kredit, dan mengambil tambahan (harga) sebagai ganti tempo, dan semakin panjang temponya ditambah pula harganya. Dari sisi lain itu hanyalah mu’amalah yang tidak syar’i karena meniadakan ruh Islam yang berdiri di atas (prinsip) memudahkan kepada manusia, kasih sayang terhadap mereka, sebagaimana di dalam sabda beliau.

Maka sebenarnya diperbolehkan atau tidak penawaran dua harga tersebut? Apa dalil atau ijma’ yang melatarbelakangi diperbolehkannya penawaran dua harga tersebut?

(Reza Arief Dipanagara, Peserta Sekolah Muamalah Indonesia Bogor angkatan 9)

 

Jawaban

Wa ‘alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakaatuhu

Bismillahirrahmanirrahim. Al hamdulillahilladzi arsala rasuulahu bilhuda wa diinil haq li yuzhirahu ‘ala diini kullihi wa lau karihal kaafiruun. Amma ba’du

Pembahasan ini terkait dengan hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disini ana nukilkan hadistnya dari kitab Al-Wajiz:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عِنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مِنْ بَاعَ بَيْعَتَيْنِ فِيْ بَيْعَةٍ فَلَهُ لأَوْكَسُهُمَا لأَوِ الرِّبَا

Artinya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Barangsiapa berjual beli dengan dua jual beli dalam satu jual beli maka baginya yang lebih rendah atau riba”.

Para ulama bersepakat bahwa makna penjualan disini adalah harga (ثَمَنٌ), sehingga hadist ini dimaknai sebagai “Barangsiapa berjual beli dengan dua harga di dalam satu jual beli, maka baginya (harga) yang lebih rendah atau riba”. Sebagaimana pendapat Imam Asy Syafi’i seperti dinukilkan pendapat beliau oleh Imam Ash Shan’ani di dalam Subulus Salam.

Namun, ulama berselisih apakah tawar-menawar dengan harga berbeda, seperti perkataan “Aku jual kepadamu barang ini tunai 1 juta atau kredit setahun 1.5 juta”, termasuk dalam larangan hadist ini atau tidak.

Wallahu a’lam, yang lebih kuat adalah tawar menawar dengan dua harga atau lebih terjadi sebelum akad jual beli, sehingga belum dianggap jual beli, karenanya tidak termasuk dalam larangan ini.

Shallallahu ‘ala muhammadin, wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam, wal hamdulillahi rabbil ‘alamin

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Imam Wahyudi (Dewan Pengajar Sekolah Muamalah Indonesia)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.