Jangan Berjualan di Masjid!

Bagi jamaah yang ingin mendapatkan buku karangan Ustadz Fulan, yang membahas lengkap tentang ilmu islam yang dibahas oleh ustadz Fulan tadi, dapat anda beli langsung melalui DKM setelah pengajian ini usai…” (ilustrasi)           

Begitulah ilustrasi kejadian yang seringkali terjadi di masjid-masjid yang mempromosikan buku yang dikarang seorang pencermah atau pembicara dalam sebuah kajian. Kasus bisnis lain yang kerapkali terjadi di masjid adalah pengumuman bisnis kurma, Habbatussauda, obat-obatan herbal, promo travel umroh, transaksi jual beli pulsa, selebaran brosur pendaftaran sekolah/ pesantren, selebaran brosur penjualan flashdisk berisi ceramah atau murotal dan perniagaan lainnya yang dilakukan secara verbal, tertulis di majalah dinding masjid ataupun jual beli langsung.

Sebenarnya, hukum asal jual beli adalah mubah, namun terkadang hukumnya bisa berubah menjadi wajib, haram, sunnah dan makruh tergantung situasi dan kondisi berdasarkan asas maslahat

Allah berfirman:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya:

“…Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Q.S. Albaqarah : 275)

Pada kasus pengumuman promo penjualan buku dan transaksi lainnya yang disebutkan di atas, dapat dikatagorikan sebagai jual beli yang terlarang karena dilakukan di tempat yang dilarang Nabi. Hal ini berdasarkan pada sabda Nabi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى عَنِ الشِّرَاءِ وَ الْبَيْعِ فِي الْمَسْجِد

“Nabi shallallahu ‘alaiihi wa sallam melarang jual-beli di masjid.” (H.R. Abu Daud)

Bahkan Nabi memerintahkan kepada kita untuk mendoakan orang yang melakukan akad jual beli di masjid agar tidak mendapat keuntungan atas perniagaan yang dilakukannya. Sabda Nabi ini adalah penegasan dari terlarangnya kegiatan jual beli di masjid. Nabi bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيْعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِيْ الْمَسْجِدِ فَقُولُوا: لاَ أَرْبَحَ اللهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُم مَنْ يُنْشِدُ فِيْهِ ضَالَةً فَقُولُوا: لاَ رَدَّ الههُ عَلَيْكَ

Bila engkau mendapatkan orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah kepadanya, ‘Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perniagaanmu.’ Dan bila engkau menyaksikan orang yang mengumumkan kehilangan barang di dalam masjid, maka katakanlah kepadanya, ‘Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang.” (HR. at-Tirmidzi)

Pelarangan yang ditetapkan Nabi atas jual beli ini adalah agar masjid terjaga dari kegaduhan yang melalaikan seperti yang terjadi di pasar juga sebagai penegasan bahwa masjid adalah rumah Allah yang diperuntukkan sebagai tempat memuji dan beribadah kepada-NYA

Allah Berfirman yang artinya:

Di rumah-rumah yang di sana Allah telah memerintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, di sana ber-tasbih (menyucikan)-Nya pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang (hari kiamat).” (QS. an-Nur: 36-37).

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Penyusun: Alkhaledi Kurnialam

Referensi “Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA, Cetakan XIV, 2016

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.