0815 1321 1333 info@sekolahmuamalah.com

Hadiah Dalam Hutang Piutang

Pertanyaan :

Assalamualaikum Ustadz.

Bagaimana jika seperti ini.

Si A punya masalah dengan tunggakan. Kemudian si B dengan ikhlas membayarkan tunggakan itu. Ketika A bertanya ke B apakah bantuan ini berupa pinjaman?  Kata si B ini bukan pinjaman, dia ikhlas membayarkan tunggakan tersebut. Tidak lama kemudian ketika A ada rejeki, si A ingin membalas kebaikan si B dengan memberikan sebuah barang.

Apakah barang yang diberikan oleh A kepada B tersebut menjadi riba atau sesuatu yg haram? Karena niat dia ingin membalas kebaikan kepada B.

Mohon penjelasan dari Ustadz.

– Gun**** –

Jawaban : 

Bismillahi,

Berikut ini ana jelaskan beberapa pembahasan untuk menambah kaidah bagi antum untuk mempermudah dalam menyikapi status hadiah di dalam hutang piutang.

Pertama: hukum asal saling memberi hadiah di dalam Islam adalah boleh dan bahkan dianjurkan. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيْبُ عَلَيْهَا.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan beliau membalasnya.” (HR. Al-Bukhari: V/210, no. 2585).

Kedua: Larangan menerima hadiah dari orang yang kita beri hutang (مُقْتَرِضٌ), kecuali jika sebelumnya sudah terbiasa saling memberi hadiah. Hal ini berdasarkan hadist dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَى لَهُ أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ فَلَا يَرْكَبُهَا وَلَا يَقْبَلْهُ
“Apabila salah satu dari kalian meminjami (kepada orang lain) suatu pinjaman, kemudian (orang yang dipinjami) memberi hadiah kepadanya atau memberikan tumpangan atas kendaraannya, maka janganlah dia menaikinya dan jangan (pula) menerimanya.” (HR. Ibnu Majah 2526).

Hadist terkait anjuran saling memberi hadiyah dari hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas adalah dalil yang bersifat umum, sedangkan hadist yang melarang pihak yang menghutangi (مُقْرِضٌ) menerima hadiah dari pihak yang dihutangi (مُقْتَرِضٌ) ketika terikat akad hutang-piutang (قَرْضٌ) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anha adalah dalil yang bersifat khusus. Dalam hal ini ana nukilkan kaidah di dalam kitab Al-Ushul min ‘Ilmil Ushul, karya dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu Ta’ala halaman 78:

أَنْ يَكُوْنَ التَّعَارُضُ بَيْنَ عَامٍ وَ خَاصٍ فَيَخْصُصُ الْعَامَ بِالْخَاصِ
“Jika terdapat pertentangan antara (dalil) umum dan (dalil) khusus maka mengkhususkan (dalil) umum dengan (dalil) khusus.”

Berdasarkan kaidah ini, kedua hadist tersebut dapat dimaknai: bahwa dianjurkan untuk saling memberi hadiah (هَدِيَّةٌ), kecuali jika terikat akad hutang-piutang (قَرْضٌ) maka pihak yang menghutangi (مُقْرِضٌ) tidak boleh menerima hadiah dari pihak yang berhutang (مُقْتَرِضٌ), kecuali jika keduanya sudah saling memberi hadiah sebelum terjadinya akad hutang-piutang.

Ketiga: bolehnya pihak yang berhutang (مُقْتَرِضٌ) memberikan hadiah kepada pihak yang menghutangi (مُقْرِضٌ) ketika pelunasan hutang. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ مِنَ الْإِبِلِ فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ, فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعْطُوهُ. فَطَلَبُوا سِنَّهُ ، فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلاَّ سِنًّا فَوْقَهَا. فَقَالَ: أَعْطُوهُ. فَقَالَ: أَوْفَيْتَنِيْ، وَفَّى اللَّهُ بِكَ . قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi mempunyai hutang kepada seseorang, (yaitu) seekor unta dengan (usia) setahun, maka orang itu datang menagihnya. Maka beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: ‘berikan kepadanya’. Kemudian mereka mencari (unta) yang berumur setahun, namun mereka tidak menemukannya kecuali (unta) yang berumur dua tahun lebih tua darinya. Maka beliau bersabda: ‘berikan kepadanya’. Maka dia berkata: ‘engkau telah melebihkan untukku, semoga Allah membalasnya untukmu’. Maka Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: ‘sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian (hutang)’.” (HR. Bukhari: II/843, bab Husnul Qadha’ no. 2263).

Hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini mengkhususkan hadist larangan menerima hadiah ketika terikat akad hutang-piutang (قَرْضٌ), yakni bolehnya memberi dan menerima hadiah ketika pelunasan hutang selama tidak dipersyaratkan di awal akad.

Hal ini selaras dengan pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu Ta’ala sebagaimana penjelasan beliau atas hadist ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَتَيْتُ الْمَدِينَةَ فَلَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَلاَمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: أَلاَ تَجِيءُ فَأُطْعِمَكَ سَوِيقًا وَتَمْرًا، وَتَدْخُلُ فِي بَيْتٍ؟ ثُمَّ قَالَ: إِنَّكَ بِأَرْضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتٍّ، فَلاَ تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا
“Dari Sa’id bin Abi Burdah dari bapaknya, dia berkata: ‘aku mengunjungi Madinah lalu bertemu dengan ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata: ‘tidakkah engkau mengunjungiku, akan aku suguhkan makanan dari tepung dan kurma, dan kamu masuk ke dalam rumah? Kemudian dia berkata: ‘sesungguhnya engkau berada pada suatu negeri dimana riba tersebar, jika engkau memiliki hak (piutang) atas seseorang, kemudian orang itu menghadiahkan sepikul jerami, atau sepikul sya’ir (di Indonesia dikenal dengan jewawut), atau sepikul makanan ternak, maka janganlah engkau mengambilnya, karena itu adalah riba’.” (HR. Al-Bukhari no. 3814).

Di dalam Fathul Bari VII/131, beliau rahimahullahu Ta’ala menjelaskan makna lafadz “فَإِنَّهُ رِبًا” (karena itu adalah riba) sebagai berikut:

قَوْلُهُ (فَإِنَّهُ رِبًا) يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ رَأَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ, وَ إِلَّا فَالْفُقَهَاءَ عَلَى أَنَّهُ إِنَّمَا يَكُوْنَ رِبَا إِذَا شَرَطَهُ, نَعَمْ الْوَرْعُ تَرْكُهُ
“Perkataannya (karena itu adalah riba) adalah pendapat dari ‘Abdullah bin Salam, dan para fuqaha berpendapat bahwa itu adalah riba jika mensyaratkannya, benar bahwa meninggalkannya adalah lebih selamat.”

Sehingga, jika disimpulkan dari ketiga hadist di atas, yakni hadist dari Anas bin Malik, ‘Aisyah dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, dapat dipahami: bahwa dianjurkan untuk saling memberi hadiah (هَدِيَّةٌ), kecuali jika terikat akad hutang-piutang (قَرْضٌ) maka pihak yang menghutangi (مُقْرِضٌ) tidak boleh menerima hadiah dari pihak yang berhutang (مُقْتَرِضٌ), kecuali jika keduanya sudah saling memberi hadiah sebelum terjadinya akad hutang-piutang atau hadiah diberikan ketika pelunasan hutang-piutang dan ini tidak dipersyaratkan di dalam akad hutang-piutang (قَرْضٌ).

Keempat: pembatasan dalam pemberian hadiah hanya berlaku jika hadiah diberikan oleh pihak yang berhutang (مُقْتَرِضٌ) kepada pihak yang menghutangi (مُقْرِضٌ), dan kaidah pembatasan ini tidak berlaku jika sebaliknya, yakni hadiah diberikan oleh pihak yang menghutangi (مُقْرِضٌ) kepada pihak yang berhutang (مُقْتَرِضٌ) baik: (a) hadiah diberikan ketika hutang-piutang (قَرْضٌ) masih berlangsung atau ketika pelunasan dan (b) sebelumnya sudah terbiasa saling memberi hadiyah atau tidak. Hadiah yang diberikan oleh pihak yang menghutangi (مُقْرِضٌ) kepada pihak yang berhutang (مُقْتَرِضٌ) adalah mubah, bahkan dianjurkan dan menjadi shadaqah bagi pihak yang menghutangi (مُقْرِضٌ). Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala di dalam surat Al Baqarah ayat 280:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan jika (pihak yang dihutangi) mengalami kesulitan (dalam melunasi hutang) maka beri tangguhlah hingga (waktu dia menjadi) lapang, dan jika kalian menshadaqahkannya (membebaskan sebagian atau keseluruhan hutangnya) maka itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahuinya.”

Wallahu a’lam.

Untuk jawaban pertanyaan adalah mubah atau boleh berdasarkan penjelasan diatas.

 

Penulis: Imam Wahyudi, SE, MM
(Dewan Pengajar SMIDirektur Sekolah Darul Ilmi DepokDosen Dep. Management FE Universitas Indonesia)

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.