0815 1321 1333 info@sekolahmuamalah.com

Go-Food Dalam Tinjauan Syariat Islam (lanjutan)

Bismillahi,

Go-Food: Dalam Tinjauan Syariat Islam

Go-Food

A. Pendahuluan
Sebelum membahas mengenai hukum Go-Food, apakah termasuk akad yang diperbolehkan atau tidak di dalam syariat Islam, maka terlebih dahulu perlu kita pahami tentang proses bisnis dari akad Go-Food, agar penetapan hukumnya menjadi lebih tepat sesuai dengan keadaan sesungguhnya. Di dalam suatu kaidah fikih disebutkan:

الحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ عِلَّتِهِ ثُبُوْتًا وَعَدَمًا
“Hukum itu berputar bersama illat-nya, ada dan tidak adanya”.

Berdasarkan kaidah ini, ketika di dalam suatu akad diketemukan mengandung illat (penyakit, sebab dihukumi) atas suatu perkara yang diharamkan, maka hukumnya akan dipalingkan dari mubah menjadi haram, sesuai dengan keberadaan illat haramnya, sebagaimana dijelaskan dalam kaidah fikih muamalah berikut:

اَلْأَصْلُ فِيْ الْأَشْيَاءِ إِبَاحَةٌ حَتَّى يَدُلُّ الدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ
“(Hukum) asal segala sesuatu adalah boleh, kecuali ada dalil yang menunjukkan atas pengharamannya”.

Sebaliknya, jika tidak ada petunjuk (دَلِيْلٌ) yang menunjukkan atas adanya perkara yang haram di dalam suatu akad, maka akad itu wajib ditetapkan sebagaimana hukum asalnya, yakni boleh (مُبَاحٌ). Dengan kata lain, tidak bisa kita memalingkan hukum kebolehan suatu akad, hanya dengan praduga (prasangka), namun dengan petunjuk (دَلِيْلٌ) yang jelas dan tegas, maka akad itu memang mengandung illat atas pengharamannya, sebagaimana dijelaskan dalam kaidah berikut:

اَلْيَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِشَكٍّ
“Sesuatu yang yakin tidak bisa dipalingkan (hukumnya) dengan sesuatu yang meragukan”.

B. Skema Akad Go-Food


Berdasarkan ‘Gambar: Skema Akad Go-Food, proses bisnis dari Go-Food ini dapat dijelaskan melalui tahapan proses berikut:

  1. Perusahaan Go-Jek membuat aplikasi Go-Food yang memungkinkan merchant memajang produk di dalam aplikasi dan memfasilitasi terjadinya jual beli antara konsumen dengan merchant, dan pada waktu yang sama konsumen juga mendaftar ke Go-Jek untuk dapat mengakses aplikasi Go-Food ini.
  2. Sebelum merchant dan produknya muncul di aplikasi Go-Food, merchant akan mendaftar ke aplikasi Go-Food, diverifikasi dan disetujui oleh Go-Food melalui kontrak yang diklaim sebagai Ijarah (yakni sewa jasa lapak dan fasilitas pemasaran) dengan imbalan berupa bagi hasil atas penjualan sebesar 20% dari hasil penjualan dari merchant dengan skema Go-Food yang direkapitulasi setiap akhir bulan.
  3. Setelah merchant dan produknya muncul di dalam tampilan aplikasi Go-Food, barulah konsumen dapat bertransaksi atas produk merchant ini. Melalui aplikasi ini, akad pertama yang muncul dari sisi konsumen adalah akad wakalah antara konsumen dengan Go-Jek, yakni konsumen titip beli melalui Go-Jek untuk membelikan produk (makanan dan/ atau minuman) ke merchant, dimana konsumen sebagai muwakkil (مُوَكِّلٌ) dan Go-Jek sebagai wakil (وَكِيْلٌ). Namun, dalam akad titip beli ini, konsumen tidak memberikan uangnya, namun juga minta ditalangi terlebih dahulu oleh Go-Jek, sehingga dalam akad titip beli ini, akadnya bergeser dari wakalah (وَكَالَةٌ) murni berubah menjadi wakalah-wa-qardh mustaqbal (وَكَالَةٌ وَ قَرْضٌ مُسْتَقْبَلٌ), yakni akad titip beli dengan janji menalangi, dimana Go-Jek bertindak sebagai wakil (وَكِيْلٌ) dan sekaligus pihak yang berjanji memberikan dana talangan (مُقْرِضٌ لِمُسْتَقْبَلٍ) dan konsumen bertindak sebagai pihak yang diwakili (مُوَكَّلٌ) dan akan ditalangi (مُقْتَرِضٌ لِمُسْتَقْبَلٍ).
  4. Dalam menjalankan akad talangan titip beli Go-Jek mewakilkan pembelian produk ke merchant kepada Driver, dan disini terjadi akad Wakalah (وَكَالَةٌ) antara Go-Jek (مُوَكِّلٌ) dengan Driver (وَكِيْلٌ). Dalam kasus ini, Go-Jek tidak memberikan uang kepada Driver sebagai talangan (untuk konsumen) untuk membeli makanan/minuman ke merchant, dan meminta Driver untuk menalangi terlebih dahulu pembelian makanan/minuman ke merchant, untuk kemudian ditagihkan ke konsumen. Dalam proses ini, Driver menalangi Go-Jek dalam rangka komitmen Go-Jek untuk menalangi konsumen. Sehingga, sama dengan proses konsumen-GoJek, dalam proses ini, Driver bertindak sebagai wakil dari Go-Jek (وَكِيْلٌ) dan sekaligus sebagai pihak yang akan menalangi Go-Jek (مُقْرِضٌ لِمُسْتَقْبَلٍ) dan Go-Jek sebagai pihak yang diwakili (مُوَكِّلٌ) dan yang akan ditalangi (مُقْتَرِضٌ لِمُسْتَقْبَلٍ). Dan sekali Driver mengeluarkan uang untuk menalangi Go-Jek, dan Driver berkeinginan untuk menagih kembali dana talangan tersebut, maka terjadi akad hutang-piutang (قَرْضٌ) antara Driver (مُقْرِضٌ) dengan Go-Jek (مُقْتَرِضٌ) sejumlah uang yang dibayarkan Driver untuk membeli makanan/minuman, katakanlah sejumlah Rp10.000,- sesuai dengan daftar harga makanan/minuman yang tertera di struk/nota resmi dari merchant. Dan secara otomatis, terjadi akad hutang-piutang (قَرْضٌ) juga antara Go-Jek (مُقْرِضٌ) dengan konsumen (مُقْتَرِضٌ).
  5. Driver sebagai wakil dari Go-Jek kemudian mengantarkan makanan/minuman tersebut kepada konsumen untuk memenuhi akad wakalah antara Go-Jek dan konsumen, dengan status sebagai wakil Go-Jek, dan Driver menerima pembayaran dari konsumen sejumlah harga makanan/minuman yang tertera dalam struk/nota (Rp10.000,-) dan ongkos kirim, katakanlah Rp5.000,-, atau total sebesar Rp15.000,- sebagai bentuk pelunasan atas hutang (قَرْضٌ) dari Go-Jek atas talangan hutang yang diberikan oleh Driver (Rp10.000,-) dan ongkos kirim untuk Driver (Rp5.000,-).
  6. Berdasarkan proses dalam poin 5, Driver:
    (a) mendapatkan kembali pembayaran atas dana talangan yang Driver berikan kepada Go-Jek sebesar Rp10.000,-,
    (b) ongkos kirim Driver sebagai wakil dari Go-Jek untuk membelikan makanan/minuman yang menjadi pesanan dari konsumen sebesar Rp5.000,-, serta
    (c) mendapatkan tambahan 2 poin dari Go-Jek yang nantinya dapat dikonversi menjadi uang.
  7. Kembali kepada poin 1, setelah makanan/minuman diterima oleh konsumen, maka Go-Jek diklain berhak mendapatkan marketing fee sebesar 20% dari nilai penjualan merchant melalui aplikasi Go-Food, dalam kasus ini adalah Rp2.000,- (20% x Rp10.000,-), dimana Rp2.000,- akan dibayarkan merchant kepada Go-Jek pada akhir bulan.

C. Pembahasan: Struktur Skema Dasar Go-Food: Wakalah atau Kafalah
Berdasarkan ulasan proses bisnis dari aplikasi Go-Food, ada dua akad dasar yang mungkin terjadi dalam aplikasi Go-Food ini, yakni:
1. Akad Wakalah
Di dalam Al Wajiz fi Fiqhis Sunnati wal Kitabil Azizi, Syaikh Abdul Adzim al Badawi, menjelaskan makna wakalah (وَكَالَةٌ) adalah:

إِقَامَةُ الشَّخْصِ غَيْرُهُ مَقَامَ نَفْسَهُ مُطْلَقًا أَوْ مَقِيْدًا
Seseorang menjalankan dengan dirinya sendiri untuk orang lain secara mutlak atau terikat.”

Dalam hal ini, ketika Go-Jek menerima akad pesan beli dari konsumen, dan Go-Jek membelikan makanan/minuman yang dipesan oleh konsumen, Go-Jek membeli ke merchant bukan atas nama dirinya (Go-Jek) namun atas nama konsumen. Sehingga, seluruh biaya dan resiko yang terjadi selama proses pembelian ini menjadi tanggung jawab dari konsumen, dan Go-Jek sebagai wakil dari konsumen tidak memiliki tanggung jawab selama dia tidak lalai (تَفِرِيْطٌ) atau melampaui batas (تَعَدَّى), sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdul Adzim Al Badawi:

وَ الْوَكِيْلُ أَمِيْنٌ فِيْمَا يَقْبِضُهُ وَ فِيْمَا يَصْرِفُهُ, وَ لَا يَضْمَنَ إِلَّا بِالتَّعَدَّى: لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لَا ضَمَانَ عَلَى مُؤْتَمِنٍ
Dan wakil yang dapat dipercaya di dalam serah-terimanya dan di dalam pertukarannya, dan tidak ada tanggung-jawab kecuali dengan melampui batas: sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam: ‘tidak ada tanggung-jawab atas orang yang dipercaya.”

Karena yang menanggung biaya dan risiko (ضَمَانٌ) adalah orang yang diwakili (مُوَكِّلٌ), yakni konsumen, maka ketika wakil (Go-Jek) mendapatkan manfaat yang berasal dari sebab akad wakalah ini, maka seluruh kemanfaatan adalah menjadi milik dari orang yang diwakilinya (konsumen), hal ini sejalan dengan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya, pada hadist no 3510 (ana nukilkan lengkap dengan sanadnya):

٣٥١٠- (حَسَنٌ بِمَا قَبْلَهُ) حَدَّثَنَا إِبْرَهِمَ بْنُ مَرْوَانَ [اَلدِّمَشْقِيْ], نَا أَبِيْ, نَا مسْلِمٍ بْنُ خَالِدِ الزَّنْجِيْ, نَا هِشَامٍ بْنُ عُرْوَةَ, عَنْ أَبِيْهِ, عَنْ عَائِشَةَ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا], أَنَّ رَجُلًا اِبْتَاعَ غُلَامًا فَأَقَامَ عِنْدَهُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يُقِيْمَ, ثُمَّ وَجَدَ بِهِ عَيْبًا, فَخَاصَمَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ, فَرَدَّهُ عَلَيْهِ, فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ قَدْ اِسْتَغَلَّ غُلَامِيْ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: اَلْخَرَاجُ بِالضَّمَانِ
“3510 – (hasan dengan hadist sebelumnya) Telah mengkhabarkan kepada kami Ibrahim bin Marwan (Ad Dimasyqiy, dari bapakku, dari Muslim bin Kholid Az-Zanjiy, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Aisyah [semoga Allah Ta’ala meridhainya], Sesungguhnya seorang laki-laki membeli budak, lalu (budak itu) tinggal bersamanya (pembeli) hingga waktu yang ditentukan oleh Allah Ta’ala, lalu dia (pembeli) menemukan adanya cacat, maka dia (pembeli) mengadukannya (penjual) kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, maka (Nabi) mengembalikannya (budak itu) kepada (penjual)nya, maka dia (penjual) berkata: ‘Wahai Rasulullah, bukankah dia (pembeli) telah mempekerjakan budakku?’, maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: ‘keuntungan itu dengan tanggungan (risiko)’.

Dalam kasus aplikasi Go-Food ini, Go-Jek akan mendapatkan manfaat sebesar 20% dari hasil penjualan merchant melalui skema Go-Food, disebut dengan service fee dan dibayar di akhir bulan. Pertanyaannya: Apakah manfaat 20% ini merupakan service fee (أُجْرَةٌ) yang halal bagi Go-Jek karena sebab akad ijarah yang dilakukan oleh Go-Jek kepada merchant (seperti jasa buka lapak di aplikasi Go-Food) atau justru merupakan manfaat yang haram (غُلُوْلٌ)* bagi Go-Jek karena berkhianat kepada konsumen?

Terkait pembahasan 20% ini merupakan service fee (أُجْرَةٌ) atau ghulul (غُلُوْلٌ), terdapat pembahasan yang menarik dari hadits Ibnu Lutbiyah di dalam Shahih Bukhari di dalam sub bab “بَابُ مَنْ لَمْ يَقْبَلِ الْهَدِيَّةَ لِعِلَّةٍ” (bab orang yang tidak boleh menerima hadiyah dengan sebab), beliau membawakan hadist berikut:

٢٥٩٧ – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيْ حُمَيْدٍ السَّعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: اِسْتَعَمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَجُلًا مِنَ الْأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ, فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ: هَذَا لَكُمْ وَ هَذَا أُهْدِيَ لِيْ. قَالَ فَهَلَّا جَلَسَ فِيْ بَيْتِ أَبِيْهِ – أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ – فَيَنْظُرُ يُهْدَى لَهُ أَمْ لَا؟ وَ الَّذِيْ نَفٍْسِيْ بِيَدِهِ لَا يَأْخُذْ أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ, إِنْ كَانَ بَعِيْرًا لَهُ رُغَاءٌ, أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ, أَوْ شَاةً تَيْعَرٌ – ثُمَّ رَفَعَ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبْطِيْهِ – اَللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ, اَللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ, ثَلَاثًا
Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad, telah mengkhabarkan kepada kami Sufyan dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah bin Az-Zubair dari bapakku, Humaid As Sa’idiy, semoga Allah Ta’ala meridhainya, dia berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mengutus seorang lelaki dari suku Azd yang dikenal dengan ‘Ibnu Lutbiyyah’ untuk mengambil zakat, maka ketika datang, dia berkata: ‘Ini untukmu (Nabi) dan ini hadiyah untukku’. Maka beliau bersabda: *’Maka mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapaknya – atau di rumah ibunya – kemudian dia melihat apakah diberi hadiyah atau tidak?* Dan demi jiwaku yang ada ditanganNya, tidaklah mengambil salah satu dari kalian sesuatu, kecuali dia datang dengannya (barang yang dia ambil) di hari kiamat yang dia memikulnya di atas pundaknya, jika itu unta maka (akan) bersuara, atau sapi maka (akan) melenguh, atau kambing maka (akan) mengembik – kemudian beliau mengangkat tangannya hingga kami melihat ketiaknya – Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan, Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan’, tiga kali.

Hadist ini menjelaskan bahwa hadiyah yang diterima oleh seorang wakil tidaklah halal bagi dirinya kecuali mendapat izin dari pemberi kerjanya (muwakkil), karena hadiyah ini didapatkan oleh wakil karena sebab wakalah yang diberikan oleh muwakkil. Sehingga, dalam kasus Go-Food, 20% (yang dikatakan sebagai service fee) ini hakekatnya adalah milik dari konsumen (sebagai muwakkil), bukan milik dari Go-Jek. Mengapa? Karena 20% ini hanya dibayarkan oleh merchant kepada GoJek hanya ketika terjadi jual beli dengan menggunakan aplikasi Go-Food, yakni ketika konsumen memberikan wakalah kepada Go-Jek. Dan sebaliknya, ketika Go-Jek tidak pernah diberikan mandat/wakalah oleh konsumen, merchant tidak pernah membayarkan 20% ini kepada Go-Jek.

Bagaimana dengan akad Ijarah yang dilakukan oleh Go-Jek kepada merchant, dimana Go-Jek memberikan fasilitas marketing tools kepada merchant? Jawab: jika akad ijarah ini benar-benar bebas dari akad wakalah Go-Jek dengan konsumen, seharusnya marketing/service fee ini dibayarkan oleh merchant independen tanpa adanya ikatan (تَقْيِيْدٌ) dengan akad wakalah dari konsumen, misal:
– biaya merchant mendaftar ke aplikasi sebesar Rp50.000,-; dan/atau
– biaya service fee bulanan sebesar Rp10.000,-.

Tindakan berbeda dilakukan oleh ‘Urwah radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam untuk membeli kambing dengan membawa uang 1 dinar, dan di tengah jalan ‘Urwah berjual beli tanpa izin Rasulullah dan mendapatkan keuntungan, meski keuntungan itu muncul dari jasa yang diberikan oleh ‘Urwah (tanpa diminta oleh Rasulullah), tetap saja keuntungan itu dianggap ‘Urwah sebagai milik Rasulullah, bukan milik ‘Urwah.

Di dalam Shahih Bukhari di dalam kitab Manaqib, Imam Bukhari meriwayatkan hadist berikut:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا شَبِيبُ بْنُ غَرْقَدَةَ قَالَ سَمِعْتُ الْحَيَّ يُحَدِّثُونَ عَنْ عُرْوَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي لَهُ بِهِ شَاةً فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ وَكَانَ لَوْ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ
Telah mengkhabarkan kepada kami Ali bin Abdillah, telah mengkhabarkan kepada kami Sufyan, telah mengkhabarkan kepada kami Syabib bin Ghurqadah, dia berakat: ‘Aku telah mendengar Al Hayy bahwa mereka telah mengkhabarkan tentang ‘Urwah: Bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam memberikan kepadanya (‘Urwah) satu dinar untuk membeli dengannya satu kambing, maka dia (‘Urwah) membeli dengannya (satu dinar) dua kambing dan (kemudian) menjual salah satunya seharga satu dinar, dan dia (‘Urwah) datang kepada beliau dengan satu dinar dan satu kambing, maka beliau (Rasulullah) mendoakan “kepadanya (‘Urwah) dengan keberkahan di dalam jual belinya (‘Urwah) dan sekiranya dia (‘Urwah) membeli debu (tanah) maka akan untung di dalamnya.

Pertanyaannya: *Apakah kita akan mengikuti: (a) jejaknya Ibnu Lutbiyah, yakni menganggap bahwa 20% itu adalah service fee milik Go-Jek, dimana Rasulullah marah kepadanya, ataukah (b) kita akan mengikuti jejak ‘Urwah, yakni 20% itu dianggap sebagai diskon harga yang menjadi haknya konsumen, dimana Rasulullah ridha dan mendokakan keberkahan kepada ‘Urwah?

2. Akad Qardh dan Hawalah
Berdasarkan paparan skema pada Gambar: Skema Akad Go-Food, selain akad wakalah, juga muncul akad talangan pada pesan beli, baik permintaan talangan dari konsumen kepada Go-Jek maupun dari Go-Jek kepada Driver. Dalam proses bisnis Go-Food, ketika Driver benar-benar memberikan dana talangan, berupa membayar terlebih dahulu harga makanan/minuman dari merchant, maka dana talangan ini adalah hutang (قَرْضٌ) dari Go-Jek, dimana Go-Jek memiliki tanggung jawab (ضَمَانٌ) untuk membayar kembali dana talangan ini kepada Driver. Dalam bagian proses ini, Go-Jek adalah peminjam (مُقْتَرِضٌ) dan Driver adalah pemberi pinjaman (مُقْرِضٌ). Sehingga, dalam proses ini, tidak boleh ada manfaat lebih yang diterima oleh Driver (مُقْرِضٌ) dari Go-Jek (مُقْتَرِضٌ), sebagaimana dijelaskan dalam kaidah fikih berikut:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبَا
Setiap hutang-piutang yang mendatangkan padanya manfaat (keuntungan), maka itu adalah riba“.

1) Akad Qardh antara Go-Jek dan Driver
Dalam kasus Go-Food, ada dua hal terkait masalah manfaat yang diterima oleh Driver dari Go-Jek, yakni:
a. Ongkos kirim Driver
Dalam Go-Food bergabung dua akad sekaligus, yakni wakalah dengan upah (وَكَالَةٌ بِالْأُجْرَةِ) atau disebut dengan ijarah (إِجَارَةٌ) dan hutang-piutang (قَرْضٌ). Para ulama berselisih ketika kedua akad ini bergabung dalam satu akad, berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud rahimahullahu Ta’ala di dalam Sunnan-nya (hadist no. 3504):

٣٥٠٤ – (حَسَنٌ صَحِيْحٌ) حَدَثَّنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ, نَا إِسْمَاعِيْلَ, عَنْ أَيُّوْبَ, حَدَثَّنِيْ عَمْرُوْ بْنُ شُعَيْبَ, حَدَثَّنِيْ أَبِيْ, عَنْ أَبِيْهِ, عَنْ أَبِيْهِ, حَتَّى ذَكَرَ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ عَمْرُوْ, قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَ بَيْعٌ, وَ لَا شَرْطَانِ فِيْ بَيْعٍ, وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ يَضْمَنْ, وَ [لَا بَيْعُ] مَا لَيْسَ عِنْدَكَ. اِبْنُ مَاجَهْ: ٢١٨٨
“3504 – (hasan shahih) Telah mengkhabarkan kepada kami Zahir bin Harb, telah mengkhabarkan kepada kami Ismail, dari Ayyub, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Syu’aib, telah mengkhabarkan kepadaku bapakku, dari bapaknya, dari bapaknya, hingga ‘Abdullah bin ‘Amru menyebutkan, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: *’Tidak boleh (menggabungkan) hutang dan jual beli,* dan tidak boleh (memberikan) dua syarat dalam (satu) jual beli, dan tidak boleh (ada) keuntungan tanpa menjamin (risiko atau kerugian), dan (tidak ada jual beli) atas apa-apa yang tidak engkau miliki.’ [Ibnu Majah: 2188].”

Di dalam Buku Harta Haram Muamalat Kontemporer (HHMK), pada sub bab Titip Beli Online, ustadzuna Dr. Erwandi Tarmidzi hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa penggabungan dua akad ini diperbolehkan dengan syarat: tidak ada manfaat lebih, berupa kenaikan upah (أُجْرَةٌ) pada akad ijarah (إِجَارَةٌ), dalam kasus Go-Food adalah ongkos kirim, antara ketika Driver memberi talangan (قَرْضٌ) dan tanpa memberi talangan. Menurut beliau hadifzahullahu Ta’ala, hadist larangan menggabungkan antara akad ijarah dan qardh adalah terkait dengan kaidah menutup jalan/pintu (سَدُّ الذَّرِيْعَةِ) terjadinya riba, dan riba sangat mungkin terjadi ketika pemberi pinjaman mengambil manfaat/keuntungan dari akad ijarah, yakni kenaikan upah antara dengan atau tanpa dengan qardh. Sehingga, jika upah (أُجْرَةٌ)-nya sama baik dengan atau tanpa dengan talangan (قَرْضٌ) maka celah ribanya tidak ada, dan hukumnya kembali ke asalnya, yakni boleh (مُبَاحٌ).

Namun, dalam aplikasi Go-Food ini, tarif ongkos kirim antara Go-Food (dengan skema talangan) dan Go-Send (tanpa talangan) adalah sangat dimungkinkan berbeda, meskipun dengan jarak, waktu dan produk yang sama. Untuk membuktikannya, silahkan membuka aplikasi GoJek dan melakukan order (pesan) menggunakan aplikasi Go-Food dan Go-Send, untuk tujuan merchant yang sama dan produk yang dibeli juga sama, maka akan didapati bahwa ongkos kirim keduanya bisa sama dan juga bisa berbeda. Dimungkinkan bahwa ongkos kirim untuk Go-Food lebih mahal dibandingkan dengan Go-Send. Sehingga, kemungkinan perbedaan ongkos kirim yang lebih mahal ini dapat menjadi celah terjadinya riba (لَذَرِيْعَةِ الرِّبَا), dan karenanya seharusnya tidak boleh bergabung padanya akad qardh dan ijarah.

b. Poin bonus bagi Driver
Dengan aplikasi Go-Send (tanpa talangan), Driver hanya mendapatkan 1 poin dari Go-Jek pada setiap hantaran ke konsumen, namun ketika konsumen menggunakan aplikasi Go-Food sehingga mengharuskan Driver memberikan dana talangan kepada Go-Jek, maka Go-Jek memberikan 2 poin atas setiap hantaran yang dilakukan oleh Driver. Poin ini nantinya dapat ditukarkan oleh Driver ke Go-Jek menjadi bonus nominal Rupiah sesuai capaian poinnya. Informasi detil mengenai kebijakan poin ini dapat dilihat pada: https://driver.go-jek.com/hc/id/articles/235509188-Perhitungan-Poin-dan-Bonus-Driver-GO-JEK-Jabodetabek. Sehingga, karena Driver dalam aplikasi Go-Food ini memberikan talangan kepada Go-Jek, dimana Driver menjadi pemberi pinjaman (مُقْرِضٌ) sehingga bonus poin ini adalah manfaat/keuntungan yang diberikan oleh Go-Jek sebagai peminjam (مُقْرِضٌ), dan ini adalah riba, berdasarkan kaidah fikih di atas, yakni:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبَا
Setiap hutang-piutang yang mendatangkan padanya manfaat (keuntungan), maka itu adalah riba“.

2) Akad Qardh dan Hawalah antara GoJek dan Konsumen
a. Status service fee 20% dari merchant
Ketika Driver benar-benar menalangi Go-Jek dalam proses pembelian makanan/minuman ke merchant, maka pada waktu yang sama, Go-Jek juga telah menalangi konsumen. Mengapa? Karena proses talangan yang dilakukan oleh Driver adalah atas permintaan dari Go-Jek dalam memenuhi akad dengan konsumen. Secara ringkas, dapat dijelaskan bahwa Driver menalangi Go-Jek dan Go-Jek menalangi konsumen. Pada sisi Go-Jek dengan Driver, Go-Jek bertindak sebagai peminjam (مُقْتَرِضٌ) dan Driver sebagai pemberi pinjaman (مُقْرِضٌ). Namun, pada sisi Go-Jek dan konsumen, Go-Jek bertindak sebagai pemberi pinjaman (مُقْرِضٌ) dan konsumen sebagai peminjam (مُقْتَرِضٌ).

Berdasarkan kaidah fikih di atas, yakni:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبَا
Setiap hutang-piutang yang mendatangkan padanya manfaat (keuntungan), maka itu adalah riba“.

Maka, setiap manfaat/keuntungan yang diperoleh oleh Go-Food yang muncul dari akad talangan (قَرْضٌ) adalah riba. Dalam aplikasi Go-Food ini, GoJek akan mendapatkan 20% yang diklaim sebagai service fee atas jasa yang diberikan oleh Go-Jek kepada merchant berupa marketing tools dan selainnya. Namun, melihat dari skema Go-Food, manfaat 20% yang diterima oleh Go-Jek benar-benar terikat (تَقْيِيْدٌ) dengan akad titip beli dengan talangan ini. Misal, jika tidak ada konsumen yang order/pesan dengan aplikasi Go-Food, maka tidak ada penjualan merchant melalui Go-Food, dan karenanya Go-Jek juga tidak akan mendapatkan 1 Rupiah pun dari aplikasi Go-Food ini. Maka, diterimanya manfaat 20% dari nilai penjualan Go-Food yang dibayarkan oleh merchant pada setiap akhir bulan termasuk celah menuju terjadinya riba (لَذَرِيْعَةِ الرِّبَا).

b. Ongkos Kirim ke Konsumen
Sebagaimana telah dijelaskan pada poin (1.a) sebelumnya bahwa dimungkinkan terjadinya perbedaan ongkos kirim antara aplikasi Go-Jek yang menggunakan skema talangan (قَرْضٌ) dan tanpa skema talangan, yakni ijarah murni (إِجَارَةٌ), dan ini merupakan bentuk celah riba (لِذَرِيْعَةِ الرِّبَا) apabila ongkos kirim ketika menggunakan skema talangan (Go-Food) lebih mahal dibandingkan tanpa adanya talangan (Go-Send), dan karenanya tidak boleh digabung di dalam aplikasi ini akad qardh dan ijarah.

c. Akad Hawalah kepada Driver
Dengan skema ini, telah dijelaskan bahwa Go-Jek berhutang kepada Driver dan konsumen berhutang kepada Go-Jek, maka diperbolehkan bagi Go-Jek untuk mengalihkan hutangnya ke konsumen. Hal ini berarti bahwa Driver boleh menagih ke konsumen dalam rangka menagih hutangnya kepada Go-Jek, dengan syarat tidak boleh ada manfaat/keuntungan yang diperoleh Driver dari konsumen, berdasarkan kaidah fikih di atas, yakni:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبَا
Setiap hutang-piutang yang mendatangkan padanya manfaat (keuntungan), maka itu adalah riba“.

Dan pengalihan hutang ini dibenarkan oleh syariat Islam berdasarkan hadist yang dinukil oleh syaikh Abdul Adzim Al Badawi di dalam Al Wajiz berikut:

لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَطْلُ الْغَنِّى ظُلْمٌ, فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتَّبِعْ
Berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam: menunda hutang bagi orang kaya adalah kedzaliman, dan ketika dipindahkan (hutang) salah satu di antara kalian kepada orang yang berharta maka terimalah“.

Secara praktiknya, Driver hanya menagih kepada konsumen sebesar dana talangan yang Driver berikan kepada Go-Jek, yakni sebesar tagihan pada struk/nota penjualan dari merchant, dan sejumlah inilah yang ditagihkan kembali ke konsumen melalui skema hawalah, dan ini diperbolehkan. Namun, dalam skema hawalah ini perlu diperhatikan, bahwa dalam pengalihan hutang ini, tanggung jawab (ضَمَانٌ) masih berada pada sisi Go-Jek, dimana ketika konsumen tidak mampu membayar maka hutangnya kembali ke Go-Jek dan Driver berhak menagih kembali ke Go-Jek.

D. Kesimpulan dan Solusi
Dari pembahasan aplikasi Go-Food di atas, dapat dirangkum beberapa kesimpulan berikut:

1. Aplikasi Go-Food adalah di antara contoh akad bertumpuk (اَلْعُقُوْدُ الْمُرَكَّبَةُ), yakni terdapat 4 pihak yang terlibat (Go-Jek, Driver, konsumen dan merchant), dan diantara pihak tersebut terjadi satu atau lebih akad, yakni:
– konsumen dan Go-Jek: ijarah (إِجَارَةٌ), qardh (قَرْضٌ), dan hawalah (حَوَالَةٌ)
– Go-Jek dan Driver: ijarah muwazy (إِجَارَةٌ مُوَازِيٌّ), qardh (قَرْضٌ), dan hawalah (حَوَالَةٌ)
– Driver dan merchant: jual beli tunai (بَيْعُ النَّقْدِ).
– Driver dan konsumen: hawalah (حَوَالَةٌ)

2. Berdasarkan proses bisnis dari Go-Food dan interaksi diantara pihak yang terlibat dalam skema Go-Food ini, maka terdapat dua akad utama yang mendasari Go-Food ini, yakni akad wakalah dan qardh, dimana konsumen titip beli dengan talangan kepada Go-Jek dan Go-Jek mewakilkan titip beli dengan talangan ini kepada Driver. Sehingga, berdasarkan analisa di atas, manfaat 20% yang diperoleh oleh Go-Jek dari merchant akan terjatuh pada (minimal) salah satu hukum, yakni: ghulul (dengan perspektif skema wakalah) dan/atau riba (dalam perspektif skema qardh). Manfaat 20% yang diperoleh oleh Go-Jek ini dapat menjadi halal bagi Go-Jek jika:
a. Tidak ada talangan (قَرْضٌ) dari Go-Jek kepada konsumen, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui Driver,
b. Selain itu, Go-Jek juga harus meminta izin kepada konsumen untuk mengambil 20% manfaat dari merchant, sebagaimana dijelaskan dalam hadist tentang ‘Urwah dan Ibnu Lutbiyah,
c. Solusi lain, jika Go-Jek ingin agar manfaat 20% yang diambil dari merchant tidak terikat (تَعْلِيْقٌ) dengan akad wakalah bil ujrah (وَكَالَةٌ بِالْأُجْرَةِ) atau disebut dengan ijarah (إِجَارَةٌ) dengan konsumen, dan dapat dianggap sebagai akad ijarah (إِجَارَةٌ) dengan merchant yang terpisah dari akad wakalah (وَكَالَةٌ) dengan konsumen, maka seharusnya menggunakan sistem nominal pada service fee (أُجْرَةٌ) atas jasa yang diberikan berupa marketing tools, misal: Rp100.000,-/bulan. Sehingga, ada atau tidaknya penjualan dengan Go-Food, Go-Jek tetap berhak atas service fee (أُجْرَةٌ).

3. Poin lebih besar yang diterima oleh Driver dengan skema Go-Food ini menjadi celah riba. Agar poin ini menjadi halal bagi Driver, maka ketika Go-Jek mewakilkan pembelian pesanan konsumen ke merchant, Go-Jek juga memberikan uang untuk membeli, sehingga tidak ada akad qardh di antara Go-Jek dan Driver. Namun, jika Go-Jek tetap menggunakan skema talangan (قَرْضٌ), maka tambahan poin lebih banyak dibandingkan ketika tidak menggunakan skema talangan adalah riba.

4. Terkait ongkos kirim antara aplikasi Go-Food (dengan skema talangan) dan Go-Send (tanpa ada talangan), kadang sama dan kadang berbeda. Berdasarkan kaidah fikih: كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبَا (setiap hutang-piutang yang mendatangkan padanya menfaat, maka itu adalah riba), maka jika ongkos kirim Go-Food lebih besar dari Go-Send dapat menjadi celah terjadinya riba. Untuk menutup jalan/pintu (لِسَدِّ الذَّرِيْعَةِ) menuju riba, maka seharusnya Go-Jek membuat kebijakan limit untuk ongkos kirim, yakni ongkos kirim untuk Go-Food harus sama dengan atau lebih kecil dari Go-Send.

5. Proses penagihan Driver ke konsumen adalah boleh secara syariat, dan ini merupakan bentuk akad hawala (حَوَالَةٌ), selama jumlah yang ditagihkan ke konsumen sama dengan jumlah uang yang dibayarkan Driver untuk membeli makanan/minuman ke merchant.

[ٍSelesai – إِنْتَهَى]

—-

Depok, 5 Januari 2018

Akhukum Fillah,
Penulis: Imam Wahyudi, SE, MM
(Dewan Pengajar SMI, Direktur Sekolah Darul Ilmi Depok, Dosen Dep. Management FE Universitas Indonesia)

Pembahasan ini melengkapi artikel : Riba dalam Transaksi Go-Food sebelumnya.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.