0815 1321 1333 info@sekolahmuamalah.com

Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan

Campaign SMI Des 13 : Khiyar Iqaalah
Sering Belanja dan Temukan Kalimat Berikut?
 
“Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan.”
 
Biasanya tertulis di bon atau struk belanja dari toko atau pedagang.
 
Pesan itu seakan menjadi harga mati yang tak bisa ditawar konsumen. Padahal, tak jarang, barang yang sudah dibeli tersebut ternyata cacat.
 
Sebenarnya, bolehkah konsumen mengembalikan barang cacat yang didapat kepada si pedagang? Bagaimana dasar hukumnya?
 
Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Widodo mengatakan, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen sebenarnya sudah mengatur kesetaraan antara si pedagang dan si pembeli.
 
Salah satunya ada pada pasal 18 beleid tersebut.
 
“Kalau di bon ada tulisan ‘barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan’ sebetulnya itu pedagang sudah melanggar Pasal 18 UU Perlindungan Konsumen. Kalau barang cacat, harus dong dikembalikan,” kata Widodo dalam Sinergitas Peningkatan Pemahaman Ketentuan Perlindungan Konsumen, Pengawasan Barang, dan Penegakan Hukum, di Plaza Kenari Mas, Jakarta, Selasa (27/10/2015).
 
Dia mengatakan, bukan tidak mungkin barang dan atau jasa yang diterima konsumen ternyata cacat atau rusak. Pada kondisi ini, konsumen berhak mengembalikan barang kepada pedagang atau toko yang menjual.
 
Merujuk Pasal 18 UU Perlindungan Konsumen, pelaku usaha dalam menawarkan barang dan atau jasa yang diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausul baku pada setiap dokumen atau perjanjian.
 
Pada Pasal 18 ayat (1) poin c tertulis bahwa pelaku usaha dilarang mencantumkan klausul baku yang menyatakan bahwa mereka berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan atau jasa yang dibeli konsumen.
 
“Setiap klausul baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dinyatakan batal demi hukum,” demikian bunyi Pasal 18 ayat (3) UU Perlindungan Konsumen.
 
Bagaimana Menurut Islam?
 
Salah satu syarat dalam Jual-Beli menurut Islam adalah adanya saling ridha antara penjual dan pembeli,
 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka (saling ridha) di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. An-Nisaa : 29)
 
Dari Abu Said al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Jual beli harus dilakukan saling ridha.” (Hr. Ibn Majah, Ibn Hibban dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
 
Rukun ridha:
Para ulama menyebutkan, rukun saling ridha ada 2:
[1] Ilmu (mengetahui dan menyadari) dan
[2] al-ikhtiyar (tidak ada paksaan).
 
Sebagaimana dinyatakan dalam kaidah,
ا إ لكراه يَّسلط اَّمرضا
Unsur paksaan, menggugurkan ridha.
(Mudzakarah Qawaid fi al-Buyu’, Dr. Sulaiman ar-Ruhaili, hlm 117).
 
Kemudian, dalam Islam ada HAK KHIYAR
 
Khiyar secara bahasa diambil dari kata ikhtiyar [الاختيار ] yang artinya memilih.
 
Secara istilah, khiyar dalam akad jual beli berarti hak orang yang akad untuk memilih antara melanjutkan akad atau membatalkannya. (Fiqh Sunah, 3/109)
 
Khiyar mendapatkan porsi pembahasan khusus dalam fiqh jual beli, mengingat ini bagian penting dalam jual beli. Ada banyak macam khiyar, dan secara umum bisa kita kelompokkan menjadi 4 (dibahas pada topik yang terpisah).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

امْبَيِّ عَانَِّّ بَِّّمْخِّيَارَِّّ مََّا مََّمَّْ يََّتَفَ ركَا
“Penjual dan pembeli memiliki hak khiyar, selama tidak berpisah.” (HR. Bukhari & Muslim)
 
Tujuan besar khiyar adalah menjaga hak penjual dan konsumen, tidak ada istilah menyesal, benar-benar atas kerelaan pribadi, sehingga bisa dipastikan, jual beli ini benar-benar saling ridha. (Mukadimah fi Mu’amalah Maliyah, Dr. Yusuf as-Syubili, hlm. 8)
 
Dan yang membedakan kenapa, Jual Beli dalam Islam bukan sekadar untung dan rugi saja, namun juga surga dan neraka, karena dalam Islam juga terdapat IQALAAH
 
Apa itu iqaalah? Iqaalah adalah membatalkan akad jual beli yang telah terjadi karena sesuatu sebab.
 
Dari Abu Hurairah, ia berkata : telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
“Barangsiapa yang meng-iqaalahkah (menerima pembatalan akad pembelian) seorang muslim, niscaya Allah akan mengampunkan kesalahannya pada hari kiamat.”
(HR. Abu Dawud no.3460, Ibnu Majah no.2199, Ahmad 2/252, dan khatib al Baghdadi didalam kitab Tarikh al Baghdad 8/196).
Jika seorang istri yang diberikan uang belanja oleh suami, ketika masuk pasar atau pusat perbelanjaan, kemudian uang tersebut dibelikan sesuatu dengan ‘gelap mata’, kemudian sesampainya dirumah, suami tidak ridha, dan meminta dikembalikan. Maka ketika istrinya mengembalikan (meminta iqaalah) kepada penjual tersebut, karena menyesal dan suami tidak ridha, maka jika diterima oleh penjual tersebut, sesuai hadits di atas “niscaya Allah akan mengampunkan kesalahannya pada hari kiamat.”
Masih berani pasang tulisan “Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan.”?
 
 
Jangan Cari Kekayaan, Carilah Keberkahan
http://sekolahmuamalah.com

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.