0815 1321 1333 info@sekolahmuamalah.com

Allah Hancurkan Riba: Saatnya Kembali ke Perekonomian Islam

 

Foto : FB Bank Indonesia

Bismillah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allahu rabbul ‘alamin, zat yang maha Melindungi dan maha Kaya di alam semesta ini. Alhamdulillah, syukur tak terkira kepada-Nya atas segala rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Siang ini saya membaca sebuah artikel mengenai pernyataan dari seorang Gubernur Bank Indonesia (BI), Bapak Perry Warjiyo perihal kondisi terkini ekonomi Indonesia.

(Link berita: http://tz.ucweb.com/7_2q4Yg)

Beliau mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia saat ini mengalami gangguan atau ketidakstabilan, seperti halnya penurunan nilai mata uang Indonesia yang menembus angka Rp 14.394 per US$1. Singkatnya, beliau berkesimpulan dengan melayangkan sebuah pernyataan lugas dan tegas apa biang atau dalang gejolak ekonomi yang terjadi tersebut.

Anda tahu? Apa yang beliau simpulkan?
Jelas sudah, beliau nyatakan bahwa biang utama ketidakstabilan ekonomi ini sebagai buah dari ekonomi ribawi. Terakhir, beliau menegaskan tentang perlunya upaya untuk mendorong eksistensi ekonomi dan keuangan Islam sebagai solusi atas semua ketimpangan dalam perekonomian saat ini.

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Allah telah membuktikan Firman-Nya yang mana tertera jelas dalam Q.S Al-Baqarah ayat 276. Allah ingatkan bahwa,
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”

Dalam ayat ini ditampilkan dua hal sekaligus, masalah yang kemudian diiringi dengan solusi. Masalah yang Allah hadirkan adalah bahwa setiap perekonomian yang dibangun di atas sistem riba pasti akan hancur. Di lain hal, Allah yang maha Rahman juga memberikan solusi bagi orang-orang yang beriman yaitu melalui sedekah, yang mana dapat diartikan sebagai wakaf atau bentuk sedekah yang lain. Artinya bahwa selama suatu negara masih menggunakan sistem ribawi dengan menjadikan uang sebagai komoditas yang diperjual-belikan sekaligus pilar utama dalam perolehan profit, maka selama itu pula riba akan bersarang, tak akan pernah hilang.

Sederhananya, selama manusia masih melakukan transaksi hutang-piutang dengan mensyaratkan adanya tambahan, maka hingga kiamat mustahil riba akan lepas dalam perekonomian. Jelas bagi kita semua bahwa Allah telah melarang riba tersebut, sebagaimana dalam kaidah fiqh yang populer, disebutkan:
كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا
Segala tambahan manfaat yang timbul dari hutang-piutang adalah riba.”

Islam telah mengatur bagaimana pertukaran (jual-beli) uang dilakukan secara gamblang. Pertukaran mata uang (yang sejenis) harus dilakukan secara tunai (cash dimana pembeli dan penjual berada ditempat yang sama) dan senilai (nominal yang sama). Konsekuensinya adalah tidak dibenarkan penjual mengambil keuntungan berupa tambahan nominal dari transaksi ini.

Saya sangat sepakat dengan pernyataan tegas Gubernur BI tersebut. Saya berdoa, semoga hidayah Allah terus melebar luas kepada Bapak Gubernur BI dan diikuti kepada semua komponen bangsa Indonesia: Stakeholders, Otoritas, Regulator dan pemangku kebijakan. Tidak ada ruginya kembali kepada perekonomian Islam karena jelas bahwa ekonomi Islam tidak mengandung bahaya, bahkan sebaliknya mengandung solusi-solusi untuk kesejahteran dan kemaslahatan bersama untuk semua lini agama, suku bangsa, ras dan golongan.

Kita tahu bersama bahwa ketakwaan kepada Allah diwujudkan dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mengenai ini, secara jelas dan lugas telah Allah sampaikan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 278, bahwa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

Bentuk ketakwaan seorang hamba berikutnya adalah dengan mematuhi larangan-Nya dengan cara menjauhinya. Jelas pula, telah Allah kabarkan dalam Al-Qur’an mengenai larangan yang sering kali dibaikan atau dianggap sepele. Allah berfirman:
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ٍۗ
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah..

Silahkan direnungi sahabat semua…
Dengan demikian, saya pribadi menghimbau kepada seluruh pemangku kebijakan, stakeholders, Otoritas dan Regulator keuangan, serta seluruh pihak berkepentingan dalam pengaturan dan kebijakan perekonomian di Indonesia, untuk berupaya segera dalam meninggalkan riba. Wujudkan hal ini bersama sebagai buah ketakwaan kita kepada-Nya, yaitu dengan mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Mari, bersama kita kembali kepada hukum Islam; hukum ekonomi Islam yang menyejukkan, menentramkan, sarat dengan keadilan dan kebijaksanaan, dihiasi dengan nilai-nilai kemanusiaan, yang memberikan solusi sepanjang masa, bukan hanya untuk umat Islam namun untuk semua umat Allah di muka bumi ini.

Mari, bersama kita kembali ke perekonomian Islam, yang adil dan mensejahterakan, yang sama-sama kita idamkan. Sungguh, dengan ketakwaan kepada Allah, takutnya hamba kepada Allah, puing-puing kerusakan ekonomi akibat riba yang ada saat ini dapat ditangani.

Mari berhijrah kepada sistem ekonomi Islam, yakinlah bahwa apa yang Bapak/Ibu lakukan selaku pemangku kebijakan, semua itu akan dimintai pertanggung jawaban dari Allahu rabbul ‘alamin. Ingatlah, di tangan dan pundak Bapak/Ibu sekalian, riba itu akan berdiri tegak atau malah hancur di bumi Indonesia yang kita cintai ini.

Sungguh Allah adalah sebaik-baik penolong. Hilangkan rasa was-was, gelisah, dan ketakutan dari syaithon yang menyelimuti kita, tatkala berupaya hijrah dari riba ini. Konsekuensi itu pasti ada, namun pertolongan dan hadiah Allah jauh lebih besar dan solutif.

Reward Allah adalah sebaik-baik pemberian diantara sekalian hadiah di dunia ini. Yakinlah, bahwa jalan keluar dari Allah adalah solusi terbaik diantara macam solusi yang ada, yang diperuntukkan kepada hamba-Nya yang bertakwa, siap meninggalkan riba yang Allah haramkan. Dalam hal ini Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Q.S. At-Tholaq: 2)

Cukuplah tawakkal sebagai pendamping di kala surut. Lakukanlah semampu kita dan sisanya serahkan kepada Allah untuk melakukan bagian-Nya dan yakinlah bahwa ketetapan Allah adalah arah takdir terbaik yang harus dijalani. Allah ta’ala berfirman:
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S At-Tholaq: 3)

Demikian, semoga langkah kami di Sekolah Muamalah Indonesia, bersama kita belajar bagaimana memulai dan menjalankan bisnis tanpa riba serta memperoleh permodalan tanpa riba diridhoi oleh-Nya. Hal ini adalah langkah kami sebagai rakyat Indonesia untuk menyatakan diri berpisah/putus dengan riba. Oleh karena itu, jika Bapak/Ibu sebagai pemangku kebijakan mendukung langkah kami, maka itu adalah sebuah bentuk sinergi antara pemangku kebijakan dengan rakyatnya.
Semoga Allah subhana wa ta’ala meridhoi langkah kita semua.

Barokallahu Fiykum
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Penulis:
Dian Ranggajaya, M.E.Sy
Founder Sekolah Muamalah Indonesia (SMI)
CEO Syariah Wealth Management (SWM)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.